Letusan Gunung Krakatau 1883 sampai Pertempuan rakyat Cilegon 1888

Letusan Gunung Krakatau 1883 sampai Pertempuan rakyat Cilegon 1888. 26 Agustus 1883 lalu terjadi sebuah bencana alam yang mengerikan di tanah air kita Indonesia. Ketika itu wilayah nusantara masih disebut sebagai Hindia Belanda.

Penjajahan Belanda pada tahun 1596 dibawah pimpinan Cornelis de Houtman membawa mereka sampai ke Indonesia dan akan terus berlangsung selama 3,5 abad kemudian. Ketika Gunung Krakatau meletus, Indonesia masih dibawah penjajahan Belanda.

Oleh karena itu, segala kerugian besar tentu dialami bagi Belanda dan terkhusus untuk bangsa Indonesia itu sendiri. Puluhan ribu penduduk Indonesia tercatat merengang nyawa akibat peristiwa ini. Lebih tepatnya keseluruhan korban yang meninggal berjumlah 36.417 orang, dihitung dari keseluruhan tsunami dan gempa yang terjadi di beberapa tempat lain. 
Letusan Gunung Krakatau dan Geger Cilegon, Pertempuran Cilegon yang diawali oleh Letusan Gunung, Kesengsaraan rakyat Cilegon akibat Letusan Gunung Krakatau, Pertempuran Rakyat Cilegon 1888 diakibatkan dari penderitaan akibat Letusan Gunung Krakatau 1883.
Bahkan jauh sebelum terjadinya Letusan Gunung Krakatau tahun 1883, sebuah kitab Jawa Kuno berjudul "Pustaka Radja" telah mencatat pada tahun 416 M terdapat beberapa kali erupsi dari Gunung Kapi (Gn. Krakatau) yang menimbulkan naiknya gelombang laut hingga menggenangi daratan dan memisahkan pulau Sumatera & Jawa. 

Letak Gunung Krakatau


Gunung Krakatau terletak di wilayah kepulauan Krakatau, di tengah laut (Selat Sunda) yang diapit oleh kepulauan Jawa dan Sumatera. Karena letaknya yang berada di tengah laut, letusan krakatau sangat berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.

Sejak letusan Krakatau yang sangat dahsyat hingga meruntuhkan kaldera (gundukan tanah vulkanik di sekitar gunung akibat letusan gunung berapi), seketika itu Gunung Krakatau menghilang atau secara kasar gunung tersebut benar-benar hancur bersama ledakannya.

Namun Gunung Krakatau tidak benar-benar menghilang, karena ledakannya akan menghasilkan gunung baru yang disebut Rakata (Anak Krakatau). Letusan tersebut mengakibatkan terbentuknya empat pulau kecil, diantaranya : Pulau Rakata, Pulau Anak Krakatau, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang.

Dampak Gunung Krakatau


  • Letusan Gunung Krakatau terdengar hingga 4828 Km jauhnya.
  • Mengeluarkan 20.000.000 ton sulfur yang dilepaskan ke lapisan atsmosfer.
  • 1.000 orang tewas akibat hujan abu yang ditumbulkan setelah letusan.
  • Seluruh penduduk Sebesi (penduduk yang tinggal 13 km disekitar Gn. Krakatau) meninggal dunia dan tak menyisakan satu penduduk pun.
  • Terbentuk gelombang tsunami setinggi 30 meter (di Selat Sunda), 4 meter (di pantai selatan Sumatera), dan 2 - 2,5 meter (di pantai utara dan selatan Jawa).
  • 1 - 1,5 meter gelombang tsunami yang terbentuk mulai dari Samudera Pasifik sampai ke Amerika Selatan. Jurnal Geologi Indonesia Vol. III, 4 Desember 2008.
  • Jumlah korban jiwa yang tercatat oleh pemerintah Hindia Belanda berjumlah 36.417 orang.
  • Kapal-kapal yang berlayar disekitar Afrika Selatan melaporkan guncangan tsunami yang hebat dan melaporkan mayat korban yang terapung selama berbulan-bulan.
  • Kota Merak, Banten dan seluruh kota dipantai utara Sumatera (hingga 40 km) luluh lantah.
  • Rata-rata suhu dunia menurun sebesar 1,2°C.
  • Perubahan cuaca secara tak menentu sampai tahun 1888.


Kondisi Sosial pasca Letusan Gunung Krakatau hingga Pemberontakan Rakyat Cilegon


Tak banyak memang informasi yang dapat digali terkait kondisi sosial masyarakat sebelum letusan Gunung Krakatau. Namun, diperkirakan masyarakat tersebut tetap dalam keadaan menderita dibawah penjajahan Belanda. 

Namun seorang bernama Muhammad Saleh sempat menyimpan kejadian mengerikan ini melalui syairnya berjudul Syair Lampung Karam. Diceritakan pasca letusan Gunung Krakatau, terjadi perlawanan rakyat terhadap pemerintah Belanda di daerah Cilegon, Banten.

Pertempuran ini dilatarbelakangi oleh penderitaan rakyat akibat letusan Gunung Krakatau dan kesewenang-wenangan pemerintah Belanda di Banten. Pemicu perang tersebut antara lain :
  • Hancurnya Anyer, Caringin, Merak, Pasuruan, Carita, Tajur, dan Sirih akibat Letusan Gunung yang dua bulan setelahnya disusul dengan penikaman tentara Belanda terhadap rakyat Banten.
  • Musibah Kelaparan, penyakit dari binatang ternak, dan penyakit sampar membuat penderitaan rakyat semakin menjadi-jadi.
  • Kebijakan pemerintah Belanda yang mengharuskan membunuh binatang ternak kerbau agar tidak menularkan penyakit.
  • Penghinaan pemerintah Belanda terhadap aktivitas keagamaan di daerah Banten.
  • Menara Mushola yang dirobohkan oleh pemerintah Belanda.


Penderitaan rakyat Banten yang bertubi-tubi membuat mereka perlahan percaya akan tahayul, di sebuah desa bernama Lebak Kelapa terdapat pohon kepuh besar yang dianggap keramat. Rakyat Banten datang silih berganti untuk meminta sesuatu dengan membawa sesajen.

Namun Ki Wasyid (seorang yang dihormati di Banten) datang dan mengingatkan bahwa tak ada zat apapun di dunia ini yang dapat dimintai pertolongan selain kepada Allah SWT. Akhirnya Ki Wasyid dan beberapa muridnya menebang pohon tersebut.

Akibat perbuatannya Ki Wasyid dijatuhi hukuman karena melanggar hak orang lain dan dikenakan denda sebesar 7,50 gulden oleh pemerintah Belanda. Rentetan peristiwa penyulut emosi rakyat Banten sudah terkumpul mulai dari musibah akibat bencana alam Gunung Krakatau hingga kebijakan Belanda.

Momen ini dimanfaatkan oleh rakyat Banten untuk melepaskan diri dan melakukan pemberontakan kepada pemerintah Belanda. Pada 29 Semptember 1887, kiai-kiai di Banten mengadakan pertemuan di rumah KH. Wasid yang isinya membahas pengumpulan senjata. 

Persiapan selama tiga bulan yang dilakukan sejak akhir tahun 1887 sampai pertengahan pertama tahun 1888, ditandai dengan faktor-faktor sebagai berikut :
  1. Pelatihan pencak silat yang dipergiat
  2. Pembuatan dan pengumpulan senjata
  3. Propaganda di luar Banten dilanjutkan
Letusan Gunung Krakatau dan Geger Cilegon, Pertempuran Cilegon yang diawali oleh Letusan Gunung, Kesengsaraan rakyat Cilegon akibat Letusan Gunung Krakatau, Pertempuran Rakyat Cilegon 1888 diakibatkan dari penderitaan akibat Letusan Gunung Krakatau 1883.
Kegiatan-kegiatan tersebut diteruskan guna membakar semangat rakyat dalam melakukan pemberontakan. Salah satu pertemuan penting sebelum pemberontakan yaitu pada tanggal 22 April 1888 yang diadakan di rumah KH. Wasid (di Beji). 


Sekitar 300an orang pada saat itu berkumpul, terdiri dari para kiai dan murid-murid mereka, secara bersama-sama dan serentak mereka bersumpah :
  1. Bahwa mereka akan mengambil bagian dalam Perang Sabil (pemberontakan terhadap pemerintah Belanda)
  2. Bahwa mereka yang melanggar janji akan dianggap sebagai kafir
  3. Bahwa mereka tidak akan membocorkan informasi apapun kepada pihak luar

Letusan Gunung Krakatau dan Geger Cilegon, Pertempuran Cilegon yang diawali oleh Letusan Gunung, Kesengsaraan rakyat Cilegon akibat Letusan Gunung Krakatau, Pertempuran Rakyat Cilegon 1888 diakibatkan dari penderitaan akibat Letusan Gunung Krakatau 1883.
Pada tanggal 9 Juli 1888 pemberontakan benar-benar dilaksanakan. Perlawanan ini dipimpin oleh Ki Tubagus Ismail (keturunan Sultan Banten) dan KH. Wasid, beberapa tokoh, dan jawara Cilegon, Banten.

Komando tertinggi dipegang oleh KH. Wasid, ia memerintakan untuk segera membebaskan tahanan dari tangan Belanda. 20 tahanan berhasil dibebaskan, ketika itu pula di Cilegon terjadi pertempuran berdarah antara rakyat Banten dengan pemerintah Belanda.

Namun, kekuatan dari para pejuang Cilegon, Banten tidak mampu menandingi pertempuran terorganisir dari pihak Belanda. Pemberontakan rakyat Cilegon berhasil diredam oleh Pemerintah Belanda.

Pemerintah Belanda selanjutnya melakukan pembersihan mayat dan ditemukan mayat KH. Wasid, Ki Tubagus Ismail, Haji Abdulganin, dan Haji Usman. Ki Wasyid nantinya akan memimpin pemberontakan secara geriliya hingga Ujung Kulon, sementara 94 orang pemimpin pemberontakan dibuang ke wilayah lain.

Usai sudah kisah yang saling berhubungan antara letusan Gunung Krakatau yang membawa musibah sampai pemberontakan rakyat Cilegon, Banten terhadap pemerintah kolonial Belanda. Semoga kejadian seperti bencana alam besar tidak kembali terulang dan kita dapat mengusir segala bentuk penjajahan modern di era sekarang.

0 comments