Tokoh Pembaharuan Dunia Islam : Jamaluddin al-Afghani

Tokoh Pembaharuan Dunia Islam Jamaluddin al-Afghani. Jamaluddin al-Afghani dilahirkan di As'adabad (Distrik Kabul, Afghanistan) pada tahun 1839 Masehi. Dan meninggal pada tahun 1897 Masehi di Istanbul, Turki.

Menurutnya kemunduran yang dialami oleh umat Islam, karena umat Islam sendiri telah meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Seperti ajaran qadha dan qadar telah berubah menjadi suatu ajaran fatalisme yang menjadikan umat menjadi statis.

Yang kedua terkait kemunduran umat Islam yaitu perpecahan di kalangan umat Islam sendiri, diakibatkan lemahnya persaudaraan antara umat Islam dan berbagai hal lainnya yang berakibat pada kemunduran umat Islam.

Untuk itu sebagai jalan keluar dari permasalahan tersebut, menurutnya umat Islam harus kembali kepada ajaran Islam yang benar; mensucikan hati, memuliakan akhlak, pemerintah otokratis harus diubah menjadi demokratis, berkorban untuk kepentingan umat, dan persatuan Islam sehingga umat akan maju sesuai dengan tuntutan zaman.
Ia juga menambahkan bahwa umat Islam juga perlu meningkatkan pendidikan secara umum untuk memperkuat dunia Islam secara politis dalam menghadapi dominasi dunia barat. Lantas bagaimana ide-ide pembaharuan dan pemikiran politik al-Afghani tentang negara dan sistem pemerintahan yang akan diuraikan berikut ini:

Tokoh Pembaharuan Dunia Islam Jamaluddin al-Afghani, Latar Belakang Jamaluddin al-Afghani, Pembaharuan Islam oleh Jamaluddin al-Afghani, Agenda Pembaharuan Jamaluddin al-Afghani.
Bentuk Negara dan Pemerintahan


al-Afghani berpendapat, Islam menghendaki bentuk pemerintahan adalah republik. Kenapa republik ? sebab di dalam pemerintahannya terdapat kebebasan berpendapat yang dikepalai oleh kepala negara yang harus tunduk terhadap Undang-Undang.

Pendapat yang ia utarakan memang sangat berbeda dengan sejarah politik Islam di masa lalu, yang hanya memandang khalifah sebagai pemimpin kekuasaan absolut. Pendapat al-Afghani tampak dipengaruhi oleh pemikiran Barat dan tentunya tanpa mengesampikan prinsip-prinsip dari ajaran Islam.

Sistem Demokrasi


Menurut al-Afghani, dalam sistem pemerintahan yang absolut dan otokratis tidak akan ada yang namanya kebebasan berpendapat. Kebebasan hanyalah sebuah tindakan yang dimiliki oleh raja/kepala negara untuk bertindak tanpa diatur oleh Undang-Undang.

Oleh karena itu, menurutnya corak pemerintahan demokratis sangat cocok untuk diterapkan. Demokrasi adalah pasangan pemerintahan republik sebagaimana berkembang di Barat dan diterapkan oleh Mustafa Kemal Attaturk di Turki sebagai ganti sistem pemerintahan khalifah.

Dalam jalan pemerintahan demokratis, kepala negara harus mengadakan sebuah Syura (musyawarah) dengan para pemimpin masyarakat yang memiliki pengalaman. Syura diperintahkan oleh Allah dalam Al-Qur'an agar dapat dipraktekkan dalam berbagai urusan.

Pan Islamisme / Solidaritas Islam


al-Afghani sangat menginginkan adanya persatuan umat Islam, baik yang negaranya telah merdeka atau masih dalam belenggu penjajahan bangsa Barat. Gagasannya dikenal dengan istilah (i)Pan Islamisme(bi).

Ia menghendaki terjalinnya kerjasama antara negara-negara Islam, sehingga menumbuhkan keinginan hidup bersama dalam suatu komunitas serta mewujudkan kesejahteraan umat Islam, al-Jami’ah al-Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam sedunia).

Baca juga : Tokoh Pembaharuan Dunia Islam : Muhammad Abduh

Persatuan umat Islam menjadi tema pokok dari setiap tulisan al-Afghani. Ia menginginkan umat Islam mampu mengatasi dan mencegah perbedaan doktrin dan kebiasaan permusuhan.

Perbedaan ini tidak perlu dijadikan sebuah hambatan, sebagai contoh di Jerman yang kehilangan kesatuan nasionalnya karena terlalu memandang penting perbedaan agama. Bahkan jurang perbedaan di wilayah teluk pun dapat dijembatani asal umat Islam mampu untuk bersatu.

Referensi :
Indonesia. Kementerian Agama Republik Indonesia. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta : Kementerian Agama Republik Indonesia, 2016.

0 comments