Tokoh Pembaharuan Dunia Islam : Muhammad Abduh

Tokoh Pembaharuan Dunia Islam Muhammad Abduh. Tokoh pembaharuan Islam yang patut kita ketahui adalah Muhammad Abduh, seorang imigran dari Turki yang memutuskan menetap di Mesir. Dan masih memiliki keturunan dengan Khalifah Umar Ibn Khattab.

Muhammad Abduh


Adalah seorang imigran Turki yang memutuskan tinggal di Arab. Ibunya adalah seorang berkebangsaan Arab dan masih memiliki garis keturunan dari Khalifah Umar Ibn Khattab. Saat berusia 12 tahun, Muhammad Abduh sudah mampu menghafal Al-Qur'an dengan bimbingan langsung dari sang ayah.

Pemikiran cemerlangnya mulai muncul ketika ia dikirim untuk belajar secara formal ke Perguruan di Masjid Ahmadi, Thanta. Keputusan ini adalah perintah langsung dari sang ayah, agar Abduh mempelajari bahasa Arab, Nahwu, Shorof, dan lainnya.

Tokoh Pembaharuan Dunia Islam Muhammad Abduh, Latar Belakang Muhammad Abduh, Pembaharuan Islam oleh Muhammad Abduh, Tiga Agenda Pembaharuan Muhammad Abduh.
Namun, Abduh merasa bahwa pelajaran yang ia pelajari seperti nahwu dan fiqih hanya menghafal tanpa mengetahui apa substansinya. Sehingga ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Mahallah Nashr, hidup sebagai petani, dan menikah di usia 16 tahun.

Ia kemudian kembali ke Thanta pada bulan Oktober 1865 M. Hanya 6 bulan menetap, ia memutuskan untuk pergi ke al-Ahzar yang menurutnya tempat yang sangat cocok untuk belajar ilmu agama.

Ia kecewa dengan metode belajar yang diterapkan di al-Ahzar, menurutnya tidak jauh berbeda dengan apa yang diterapkan di Thanta. Abduh kembali mengalihkan minat belajarnya, hingga pada tahun 1871 M Abduh bertemu dengan Jamaludin Al-Afghany.

Al-Afghany merupakan pemikir modern yang masih memiliki garis keturunan dari Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Al-Afghany juga seorang ulama yang sangat cerdas dan mampu memberikan solusi ketika Mesir mengalami krisis keuangan pada tahun 1871 M - 1879 M.

Abduh sangat menyukai metode belajar yang diterapkan oleh Al-Afghany, menurutnya Al-Afghany telah membantunya dalam melepaskan kegoncangan jiwa yang dialaminya. Metode yang diterapkan oleh Al-Afghany yaitu metode pengetahuan teoritis dan praktis.

Baca juga : Penyebab Munculnya Gerakan Pembaharuan Dunia Islam

Dengan bimbingan dari Al-Afghany, akhirnya Muhammad Abduh menjadi pelopor penyebaran pemikiran Jamaluddin al-Afghany di kampus al-Azhar hingga berkembang luas ke seluruh Mesir bahkan dunia. 

Tahun 1877, Abduh menyelesaikan studinya di al-Azhar dan menjadi dosen di Universitas Darul Ulum, Universitas al-Azhar, dan perguruan bahasa Khadevi. Meskipun ia bolak-balik diasingkan ke tempat lain, namun semangatnya dalam mengajar tak pernah pudar.

Pembaharuan oleh Muhammad Abduh


Pembaharuan Pertama 


Pada tahun 1882 bersama Urabi Pasya, Abduh ikut bergabung dalam gerakan politik menentang ketidakadilan negara. Ia kemudian diasingkan lagi ke Beirut dan Perancis. Di Perancis ia bertemu kembali dengan Jamaluddin al-Afghani dan kemudian menerbitkan majalah al-Urwatul Wutsqa.

Ia kemudian bekerja sebagai hakim agama (mufti) dan menjadi anggota majelis al-A’la al-Azhar yang berhasil membawa perubahan-perubahan di lembaga pendidikan tertua tersebut. Ia diangkat menjadi mufti sejak tahun 1899.
Tokoh Pembaharuan Dunia Islam Muhammad Abduh, Latar Belakang Muhammad Abduh, Pembaharuan Islam oleh Muhammad Abduh, Tiga Agenda Pembaharuan Muhammad Abduh.

Pembaharuan Kedua


Para mufti, memilik pandangan bahwa seorang mufti bertugas sebagai penasihat hukum bagi kepentingan sebuah negara. Pandangan ini seakan-akan melepas diri mereka dari masyarakat yang mencari kepastian hukum. Untuk itu usaha Abduh yaitu memperbaiki pandangan masyarakat bahkan pandangan para mufti sendiri tentang kedudukan mereka sebagai hakim. 

Abduh sendiri memiliki pandangan bahwa seorang mufti bukan saja bekerja untuk kepentingan sebuah negara, melainkan bagi masyarakat luas. Sehingga kepercayaan masyarakat kepasa seorang mufti dapat dipertahankan.

Pembaharuan Ketiga


Dengan mendirikan organisasi sosial, bernama al-Jami'at al-Khairiyyah al-Islamiyyah pada tahun 1892 Masehi. Tujuan dari organisasi ini yaitu menyantuni anak-anak dan fakir miskin yang tidak mampu. 

Selain itu, ia juga mendirikan lembaga wakaf dengan membentuk majelis administrasi wakaf dan memperbaiki perangkat masjid. Dengan demikian sistem wakaf itu sendiri diharapkan dapat berjalan dengan lancar

Dari banyak ide yang dicetuskan oleh Muhammad Abduh, tak semuanya dapat diterima oleh penguasa dan pihak dari al-Azhar. Ketika rintangan perlahan mulai bermunculan, Abduh jatuh sakit dan meninggal pada tanggal 11 Juli 1905. Jenazahnya dikebumikan di Kairo, yaitu di pemakaman negara.
Semasa hidupnya, pemikiran Muhammad Abduh terhadap Gerakan Pembaharuan Islam masih sangat mempengaruhi generasi penerusnya. Pemikirannya dalam melakukan pembaharuan bahkan dapat dituangkan ke dalam tiga agenda pembaharuan Islam.

Tiga Agenda Pembaharuan


Gerakan Pembaharuan Islam oleh Muhammad Abduh tidak terlepas dari watak dan karakter yang terbentuk sejak ia kecil, yaitu cinta terhadap ilmu pengetahuan. Sehingga Abduh memiliki tiga agenda pembaharuan, diantaranya :

Purifikasi


Adalah pemurnian ajaran Islam, berkaitan dengan munculnya bid'ah dan khurafat yang masuk kedalam kehidupan beragama umat Islam. Menurut pandangan Abduh, seorang muslim wajib dan diharuskan menghindarkan diri dari perbuatan syirik dalam bentuk apapun.

Reformasi Pendidikan Islam


Ia menitikberatkan reformasi ini di Universitas al-Azhar. Muhammad Abduh mengatakan, bahwa pembelajaran tidak hanya dilakukan dengan memfokuskan buku-buku klasik berbahasa Arab. 

Tetapi diwajibkan juga dengan mempelajari ilmu pengetahuan, sejarah dan agama Eropa agar diketahui sebab-sebab kemajuan yang berhasil mereka capai. Selain itu, Abduh juga mengatakan pentingnya upaya perbaikan dengan campur tangan pemerintah untuk mempersiapkan para pendakwah.

Pembelaan atas Islam


Risalah al-Tauhid adalah karya dari Abduh yang dimaksudkan untuk mempertahankan jati diri Islam. Pemikiran Muhammad Abduh sama sekali tidak selaras dengan paham-paham filsafat anti-agama yang ketika itu marak terjadi di Eropa.

Ia lebih tertarik dalam mendalami dan memperhatikan serangan-serangan terhadap agama Islam dari sudut keilmuwan. Ia juga berpendapat bahwa ilmu pengetauan dan Islam tidak akan saling bertentangan, justru sebaliknya Islam dan ilmu pengetahuan dapat berjalan selaras.

Oleh karena itu ia sangat menjunjung tinggi ijtihad. Karena ijtihad membuktikan bahwa Islam tidak diturunkan untuk mendukung kejumudan, akan tetapi Islam diturunkan bergerak dinamis seiring perkembangan manusia dan problem-problem kemanusiaan.

Referensi :
Indonesia. Kementerian Agama Republik Indonesia. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta : Kementerian Agama Republik Indonesia, 2016.

0 comments