Pidato Terakhir Mundurnya Presiden Soeharto

Pidato Terakhir Mundurnya Presiden Soeharto. Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya bahwa pada tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto resmi mengakhiri 32 tahun kepemimpinannya sebagai Presiden Republik Indonesia.

32 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi seorang manusia biasa yang mendapat amanat untuk memimpin sebuah negara besar, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Suka duka telah dialami Presiden Soeharto selama menjabat sebagai Presiden Kedua, Republik Indonesia.

Manis pahitnya perjalanan selama memimpin negeri ini sudah banyak dialami oleh Presiden Soeharto. Tak banyak memang orang yang sepanjang hidupnya selalu mengabdikan diri untuk bangsa dan negara.
Pidato terakhir mundurnya Presiden Soeharto, Pidato perpisahan Presiden Soeharto, Pidato mundurnya Presiden Soeharto, Pidato terakhir Presiden Soeharto.
Namun, satu hal yang perlu kita ketahui, Beliau (Presiden Soeharto) merupakan satu dari sedikit orang yang selama hidupnya selalu mengabdikan diri untuk bangsa dan negara Indonesia. 

Menjelang akhir kepemimpinannya sebagai presiden, beliau melakukan pidato terakhir yang sangat baik bagi kita penerus bangsa untuk selalu mengenang pidato tersebut. 

Pidato yang menandai akhir dari pengabdian panjang seorang abdi negara bernama Soeharto. Untuk itu berikut pidato Presiden Soeharto yang saya kutip dari buku berjudul "Hari-Hari Terpanjang", James Luhulima :
Tidak semua pidato akan saya tulis dengan sebenar-benarnya, karena blog ini terdaftar untuk Google Adsense maka segala bentuk plagiarisme akan memutus kerja sama blog ini dengan Adsense. Untuk itu sebagai gantinya akan saya tuliskan point-point dari pidato terakhir Pak Harto.

Bismillahirrohmanirrahim,

Saudara-saudara sebangsa dan se-Tanah Air. 

Assalamu'alaikum warahmatllaahi wabarakaatuh.

Belakangan ini Pak Harto mengikuti dan memahami betul dengan cermat mengenai situasi nasional yang sedang terjadi di Indonesia. Khusunya yang terkait dengan aspirasi rakyat yang berencana melakukan sebuah reformasi di segala aspek berbangsa dan bernegara. 

Melalui pemahaman Pak Harto sebagai seorang pemimpin, beliau memahami betul tentang aspirasi rakyat yang didorong oleh keyakinan bahwa perlunya diadakan sebuah reformasi secara tertib, damai, dan konstitusional. 

Hal tersebut sebagai pertimbangan agar tercipta dan terpeliharanya kesatuan dan persatuan bangsa, dalam kelangsungan pembangunan nasional. Untuk itu atas pertimbangan tersebut Pak Harto berencana untuk membentuk Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII.

Namun, hari dimana Pak Harto harus mengumumkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud. Hal ini dikarenakan tidak adanya tanggapan atas rencana pembentukan Komite tersebut.

Dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi, maka untuk melaksanakan reformasi dengan sebaik-baiknya, Pak Harto menilai perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi. 

Melihat dari keadaan yang sedang terjadi diatas maka Pak Harto memiliki pendapat bahwa sangat sulit bagi seorang Presiden dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik.

Memperhatikan Pasal 8 UUD 1945 dan pandangan pimpinan DPR serta Pimpinan Fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, Pak Harto membuat sebuah keputusan yang menyatakan bahwa beliau berhenti dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung dari tanggal dibacakannya pernyataan ini pada Kamis, 21 Mei 1998.

Pernyatan Pak Harto berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia disampaikannya di seluruh hadapan Saudara Pimpinan DPR dan Pimpinan MPR pada kesempatan silahturahmi. 

Berdasarkan Pasal 8 UUD 1945, maka Wakil Presiden yaitu B.J. Habibie akan mengemban tugas untuk melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden/Mandataris MPR 1998-2003.

Atas bantuan dan dukungan rakyat selama Pak Harto memimpin negara ini, beliau mengucapkan banyak-banyak terima kasih dan permohonan maaf bila terdapat kesalahan dan kekurangan selama beliau memimpin negara dan bangsa ini.

Beliau mengatakan Semoga Bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD 1945. Dan mulai hari ini pula kepada Kabinet Pembangunan VII demisioner dan para menteri, beliau mengucapkan terima kasih.

Karena keadaan sedang tidak kondusif untuk menyelenggarakan pengucapan sumpah di hadapan DPR, untuk menghindari kekosongan pimpinan pemerintah negara, Wakil Presiden B.J. Habibie dipersilahkan untuk melaksanakan pengucapan sumpah jabatan presiden di hadapan Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Baca Juga : Kisah Singkat Mundurnya Presiden Soeharto

0 comments