Kronologi Mundurnya Presiden Soeharto

Kronologi Mundurnya Presiden Soeharto. Sebagai suatu cara untuk melawan lupa, maka artikel ini dibuat sebagai suatu bahan pengetahuan bagi para generasi muda yang memang belum mengetahui peristiwa apa yang pernah terjadi pada tahun 1998. Urutan peristiwa tersebut akan tersaji secara rinci pada artikel kali ini, langsung saja simak berikut ini.


Selasa, 12 Mei 1998


Pukul 11.00
Di halaman parkir Kampus Universitas Trisakti, Jakarta. Ribuan mahasiswa telah berkumpul untuk mengadakan aksi keprihatinan atas apa yang sedang terjadi saat itu, aksi ini berlangsung dengan damai yang diikuti oleh para dosen, pegawai / staf, dan alumni Universitas Trisakti.

Pukul 13.00 
Mahasiswa yang sebelumnya berkumpul di wilayah kampus kini mulai keluar dari halaman kampus dan mulai memasuki Jalan S. Parman, Grogol. Rencana mereka pada aksi ini yaitu mendatangi Gedung MPR/DPR yang terletak di Senayan.

Puluhan petugas yang sebelumnya telah berjaga diberi bunga mawar oleh mahasiswa, aksi masih berjalan secara damai. Pimpinan mahasiswa, alumni, dan Dekan Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Andi Andojo segera menemui Komandan dan Kodim Jakarta barat Letkol (Inf.) A. Amril untuk membicarakan kemungkinan aksi tersebut akan sampai ke Gedung MPR/DPR.
Kronologi Mundurnya Presiden Soeharto, Urutan Peristiwa Lengsernya Presiden Soeharto, Detik-detik Lengsernya Presiden Soeharto
Keputusan telah disepakati, aksi keprihatinan hanya sampai depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat, dengan ini para mahasiswa hanya mencapai jarak 300 meter dari gerbang utama Kampus Universitas Trisakti.

Mahasiswa segera menggelar mimbar bebas dengan tuntutan kepada pemerintah untuk melaksanakan reformasi secepatnya yang meliputi politik, ekonomi, hukum, dan meminta pelaksanaan sidang istimewa MPR yang isinya meminta pertanggungjawaban Presiden Soeharto atas krisis ekonomi yang sedang terjadi.

Peristiwa ini masih berjalan damai hingga pukul 17.00, bahkan terlihat canda tawa yang terjadi antara mahasiswa dengan para petugas. Momen ini kemudian langsung diabadikan bagi para mahasiswa melalui jepretan foto.

Di jam yang sama, pimpinan mahasiswa dan petugas keamanan kembali mengadakan pertemuan. Hasil dari pertemuan yang kedua ini adalah disepakatinya agar para mahasiswa menyudahi aksi ini, pimpinan mahasiswa memerintahkan agar mahasiswa dengan segera kembali ke kampus.

Pukul 17.20
Suasana tertib akhirnya pecah setelah terdengar sebuah tembakkan dari arah belakang kumpulan mahasiswa. Mahasiswa yang panik segera berlarian, ada juga yang melompat pagar dan memasuki jalan tol, mahasiswa yang tidak sempat lari dipukuli oleh petugas.

Tangis pilu dan teriak kemarahan mahasiswa terdengar disekitar wilayah aksi ini berjalan. Bentrokan antar petugas dan mahasiswa kali ini sudah tidak dapat lagi diredam. 

Pukul 18.30 - 20.00
Sinar matahari yang perlahan hilang berganti dengan gelapnya malam, empat mahasiswa ditemukan tergeletak tak bernyawa diantara korban lain yang mengalami luka ringan hingga luka berat. Mereka yang tewas diantaranya Elang Mulia Lesmana, Hendriawan Sie, Hery Hartanto, dan Hafidin Alifidin Royan.

Pukul 22.00
Andi Andojo, Dekan Fakultas Hukum, menyebutkan terdapat enam orang mahasiswa Universitas Trisakti yang menjadi korban dalam aksi keprihatinan tersebut.

Pukul 05.15
Lagu Gugur Bunga mengiringi keberangkatan keempat jenazah korban ke kediaman masing-masing.

Pukul 06.00
Berita kematian mahasiswa Universitas Trisakti menyebar dengan cepat. Radio, televisi, dan surat kabar bergantian menyebarkan berita yang membuat duka bagi masyarakat Indonesia.
Kronologi Mundurnya Presiden Soeharto, Urutan Peristiwa Lengsernya Presiden Soeharto, Detik-detik Lengsernya Presiden Soeharto
Pukul 11.30
Ribuan mahasiswa Universitas Trisakti kembali mengadakan aksi, aksi kali ini merupakan aksi berkabung yang dilakukan di Kampus Universitas Trisakti. Massa yang berada di luar wilayah kampus juga ikut memadati bagian luar Kampus.

Pukul 12.00
Sebuah truk sampah di sebuah perempatan jalan layang tak luput menjadi korban pembakaran. Massa kemudian mulai membuat kericuhan dan melakukan aksi pelemparan ke fasilitas-fasilitas umum. Mereka kemudian memblokir jalan di depan Mal Ciputra.

Sebagai aksi balasan untuk mencegah kerusakan lebih berat, aparat mengeluarkan tembakan peringatan dan melontarkan gas air mata untuk memecah barisan dan melakukan pembubaran massa.

Pukul 13.00
Di wilayah Bendungan Hilir, ratusan mahasiswa Universitas Katolik Atma Jaya berkumpul untuk melakukan aksi keprihatinan atas tewasnya mahasiswa Universitas Trisakti satu hari sebelumnya. 

Pukul 14.40 
Keributan menyebar ke wilayah lain, kerusuhan mulai terjadi di kawasan Bendungan Hilir, mahasiswa memulai aksinya dengan keluar kampus dan membakar ban-ban bekas di sepanjang jalan Bendungan Hilir. Aparat keamanan dengan cepat bertindak untuk menutup Jalan Jenderal Sudirman, khususnya di sekitar jembatan Semanggi.

Para pegawai dan warga kemudian mulai berkumpul untuk bergabung bersama para mahasiswa Atma Jaya. Aparat keamanan mencoba segala cara untuk mencegah terjadinya peristiwa kerusuhan yang lebih besar. Namun, mereka justru dibalas dengan lemparan batu oleh massa.

Pukul 18.00
Keributan yang terjadi sehari sebelumnya di Kampus Universitas Trisakti kini telah menyebar ke Jalan Daan Mogot, Jalan Kiai Tapa, Jalan S. Parman, kawasan Bendungan Hilir, Kedoya, Jembatan Besi, Bandengan Selatan, Tubagus Angke, Semanan, dan Kosambi.

Pukul 22.00
Pembakaran massal terjadi di berbagai wilayah di Jakarta dan sekitarnya. Di Jakarta Utara misalnya, massa mulai melakukan pembakaran gedung, mobil, dan penjarahan di toko-toko yang masih buka.

Pukul 23.00
Atas pesan dari Presiden Soeharto yang sedang berada di Cairo untuk menghadiri KTT G-15, Wakil Presiden B.J. Habibie menyatakan rasa prihatin yang amat mendalam atas musibah yang sedang terjadi. Pemerintah menyerukan agar semua pihak menahan diri dalam memelihara ketentraman dan stabilitas.

Presiden Soeharto mengatakan "kalau dianggap perlu, reformasi bisa dilakukan mulai saat ini tetapi harus dilakukan secara konstitusional, lewat Dewan Perwakilan Rakyat."

Kamis, 14 Mei 1998


Pukul 09.00
Kepala Staf Sosial Politik ABRI Letjen Susilo Bambang Yudhoyono mengadakan pertemuan di Markas Besar ABRI, orang yang diundang pada pertemuan itu salah satunya yaitu Nurcholish Madjid yang memenuhi undangan tersebut.

Kelima orang lainnya terdiri dari Eep Saifulloh Fatah, Indria Samego, Salim Said, Yudi Krisnandi (Ketua Forum Dialog Indonesia), dan Ryaas Rasyid (tidak datang).

Nurcholish Madjid menuangkan gagasan reformasi nya dalam bentuk oret-oretan yang akan disampaikannya. Nurcholish Madjid kemudian bertemu dengan Malik Fadjar (Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam). 

Malik Fadjar mengusulkan agar Nurcholis Madjid meminta Menteri Agama Quraish Shihab, kalau bisa gagasan reformasi itu disampaikan kepada Presiden Soeharto, saat sholat Jum'at. 

Setelah itu, berangkatlah Nurcholish Madjid, Malik Fadjar, dan Utomo Dananjaya untuk bertemu dengan Quraish Shihab. Nurcholis Madjid kemudian memaparkan oret-oretannya tersebut dengan dibahas kalimat demi kalimat kepada Quraish Shihab. Quraish Shihab merespon dengan menganjurkan agar redaksional dari oret-oretan itu diubah.

Pukul 17.40 (Waktu Cairo menunjukkan Pukul 13.30)
Presiden Soeharto mempersingkat satu hari kunjungannya ke Mesir untuk bergegas pulang menuju Indonesia. 

Malam Hari
Amien Rais, ketua PP Muhammadiyah, menjelaskan mengenai pembentukan Majelis Amanat Rakyat (MAR) untuk menyerukan kepada Presiden Soeharto agar segera mengundurkan diri dengan kebesaran jiwa dan kehormatannya demi kepentingan berbangsa dan bernegara sehingga proses reformasi untuk demokrasi dapat berjalan lancar dan damai.

Namun, rencana ini menuai protes dari beberapa tokoh yang merasa namanya dicatut menjadi anggota MAR.

Jum'at, 15 Mei 1998


Pukul 04.41
Di pangkalan udara utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Presiden Soeharto tiba di Indonesia dari kunjungannya ke Cairo, Mesir untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Group-15.

Pukul 10.00
Di Kediaman Presiden Soeharto, Jalan Cendana, Presiden Soeharto berbicara kepada Wapres B.J. Habibie, beberapa Menteri, dan tokoh lainnya untuk memperjelas pemberitaan tentang keinginannya untuk mundur sebagai Presiden.

Pukul 12.00
Menteri Agama Quraish Shihab yang rencananya akan mengajukan gagasan reformasi dari Nurcholish Madjid kepada Presiden Soeharto saat sholat Jum'at, akhirnya dibatalkan. Karena saat itu Presiden didatangi delegasi Muslimat Nahdatul Ulama pimpinan Ny. Aisyah Hamid Baidlowi.

Sabtu, 16 Mei 1998


Pukul 09.00
Prof. Dr. Asman Boedi Santoso, Rektor UI, Senat Guru Besar Universitas Indonesia, menyampaikan hasil simposium Universitas Indonesia mengenai reformasi kepada Presiden Soeharto di kediaman Jalan Cendana No. 8-10.

Pertemuan itu berlangsung selama dua jam, rombongan guru besar UI menyampaikan aspirasi masyarakat yang meminta Presiden Soeharto untuk mundur. Pak Harto mengatakan "Menjadi presiden bukan keinginan saya, melainkan wujud tanggung jawab sebagai mandataris MPR. Karena itu, bila dikehendaki, setiap saat saya siap Lengser Keprabon sejauh dilakukan secara konstitusional dan damai"

Pukul 11.00
Di kediaman Jalan Cendana No. 8-10, Presiden Soeharto mengadakan pertemuan konsultasi dengan pimpinan DPR, yang terdiri dari Harmoko, Syarwan Hamid, Ismail Hasan Metareum, Abdul Gafur, Fatimah Achmad, dan Sekjen DPR Afif Ma'ruf.

Pertemuan itu berlangsung selama satu setengah jam. Mereka menyampaikan seluruh aspirasi yang masuk dan meminta agar segera dilakukannya reformasi dan upaya perbaikan di segala bidang yang meliputi politik, ekonomi, dan hukum.

Pukul 12.00
Di kediaman Malik Fadjar, Jalan Indramayu 14, Menteng, Jakarta Pusat, Gagasan reformasi Nurcholish Madjid didiskusikan bersama dengan para tokoh yang hadir antara lain Utomo Dananjaya, Amien Rais, Fahmi Idris, Soegeng Sarjadi, dan Menteri Tenaga Kerja Abdul Latief.

Minggu, 17 Mei 1998


Pukul 16.00
Presiden Soeharto menerima laporan kerugian akibat kerusuhan yang melanda beberapa kota di Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh sejak 13-14 Mei lalu menelan kerugian fisik sekitar Rp 2,5 triliun.

Pukul 18.30
Nurcholish Madjid dalam jumpa pers yang diadakannya di Hotel Wisata, ia membacakan pernyataannya "Semua Harus Berakhir Baik", Khusnul Khatimah. Point dari penyataannya yaitu tuntutan reformasi itu harus berakhir baik dan terhormat.

Kerena itu Pak Harto harus mengambil alih tanggung jawab pelaksanaan reformasi yang akan diselenggarakan di segala bidang.

Senin, 18 Mei 1998


Pagi Hari
Mensesneg Saadillah sangat tertarik mengenai apa yang dipaparkan oleh Nurcholish Madjid, ia kemudian memanggil Fahmi Idris dan meminta penjelasan tentang gagasan reformasi tersebut. Idris mengusulkan agar menanyai nya langsung kepada Nurcholish Madjid.

Pukul 11.00
Ratusan alumnus IPB yang dipimpin oleh Rektor IPB Prof. Dr. Soleh Solahuddin bertemu dengan F-KP untuk menyatakan penarikan mereka di Golkar. Mereka juga menemui F-PP untuk mengusulkan agar pimpinan Dewan meminta Presiden Soeharto untuk segera mengundurkan diri secepatnya.

Pukul 15.00
Nurcholish Madjid yang didampingi oleh Fahmi Idris dan Utomo Dananjaya menemui Mensesneg Saadillah Mursjid di Sekretariat Negara. Saadilah menyatakan ketertarikannya dengan gagasan Nurcholish Madjid. Ia kemudian meminta doa agar dirinya mampu menyampaikan gagasan itu kepada Pak Harto.

Pukul 17.00 - 19.40
Di kediaman Presiden Soeharto di Cendana, Pak Harto menerima Mendagri, Menhankam/Pangab, Panglima Kodam Jaya, Komandan Paspamres, KSAD, Mensesneg, Wapres B.J. Habibie, Azwar Anas, Probosutejo, dan Kepala Bakin.

Pukul 19.00
Nurcholish Madjid ditelepon oleh Saadillah Mursjid. Saadillah meminta agar Nurcholish menemui Presiden Soeharto di Jalan Cendana No. 8-10. Ia menambahkan "kalau bisa bersama dengan Fahmi dan Utomo."

Pukul 20.00
Nurcholish Madjid tiba di Cendana. Setelah menunggu selama lima belas menit, ia diterima oleh Presiden Soeharto. Dalam ruangan tersebut, terdapat empat orang diantaranya Nurcholish Madjid, Presiden Seoharto, Saadillah, dan Probosutejo. Namun, Probosutejo tidak ikut berdisukusi karena duduk agak menjauh.

Di waktu yang bersamaan Amien Rais mulai tinggal di kediaman Malik Fadjar di Jalan Indramayu No. 14 sehingga resmilah rumah Malik Fadjar dijadikan markas / base camp gerakan reformasi.

Selasa, 19 Mei 1998


Pukul 08.00
Nurcholis Madjid pergi ke rumah Malik Fadjar, tokoh-tokoh yang berkaitan dengan reformasi berkumpul di kediaman Malik Fadjar. Kesembilan tokoh harus segera menghadiri pertemuan dengan Pak Harto di Istana Merdeka. 

Pada pertemuan lain antara Pimpinan DPR, Pimpinan Fraksi, dan tokoh lainnya maka dihasilkan sebuah keputusan bahwa Presiden Soeharto agar mengundurkan diri secara konstitusional.

Pukul 09.00 - 11.30
Di Istana Merdeka, kesembilan tokoh masyarakat bertemu dengan Presiden Soeharto.

Pukul 11.30 
Berdiri di depan kamera televisi di Istana Merdeka, Presiden Soeharto mengambil pernyataan tertulis dari dalam sakunya, mengenakan kacamata baca, dan mulai membacanya.


Dari penyataan Presiden Soeharto tersebut dikemukakan, akan mengadakan pemilu secepat-cepatnya berdasarkan UU pemilu yang baru. Ia juga menegaskan, tidak bersedia lagi untuk dicalonkan sebagai presiden. Presiden juga mengatakan akan segera membentuk Komite Reformasi. Ia juga akan me-reshuffle Kabinet Pembangunan VII menjadi Kabinet Reformasi.

Pukul 16.00
Puluhan ribu mahasiswa mendatangi Gedung MPR/DPR, mereka bahkan menaiki kubah gedung, memenuhi taman-taman, lorong-lorong, dan lobi gedung-gedung yang ada di kompleks MPR/DPR. Peristiwa ini merupakan aksi demonstrasi terbesar yang pernah dilakukan oleh mahasiswa selama 30 tahun terakhir.
Kronologi Mundurnya Presiden Soeharto, Urutan Peristiwa Lengsernya Presiden Soeharto, Detik-detik Lengsernya Presiden Soeharto
Pukul 17.30
Barikade kawat berduri, ban bekas, dan puluhan panser maupun tank bersama kawalan voorrijder diletakkan di kawasan Thamrin-Sudirman-Silang Monas. Ratusan aparat keamanan juga berjaga di seluruh kawasan tersebut.

Penjagaan ini merupakan antisipasi gerakan long march, apel akbar, dan doa bersama yang dilakukan oleh satu juta warga dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional yang direncanakan akan dipusatkan di Monas.

Pukul 20.00
Situasi menjadi semakin kritis. Di Jalan Indramayu No. 14, markas gerakan reformasi, semua sibuk mempersiapkan kegiatan yang akan mengerahkan satu juta warga di Monas besok. 

Pukul 23.00
Amien Rais mengecek sendiri situasi yang ada di kawasan Monas dan Harmoni. Setelah melakukan pengecekan ia kemudian kembali ke Jalan Indramayu No. 14, betapa terkejutnya ia melihat ketatnya penjagaan yang dilakukan oleh aparat keamanan.

Rabu, 20 Mei 1998


Pukul 01.15
Setibanya Malik Fadjar di kediamannya, ia menemui Amien Rais dan mengatakan "Mas, memang sudah tidak bisa. Adakan konferensi pers deh, selamatkan anak-anak." Kemudian disusunlah konsep teks pidato pembatalan apel akbar yang akan dibacakan oleh Amien Rais sendiri. 

Pukul 10.00
Lebih dari 50.000 mahasiswa kembali memadati Gedung MPR/DPR untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional, acara ini berlangsung sangat meriah dan ramai. Ini merupakan hari kedua dimana para mahasiswa menduduki para wakil rakyat tersebut.

Pukul 11.30
Amien Rais mendatangi Gedung MPR/DPR disusul dengan tokoh-tokoh lain antara lain Emil Salim, Deliar Noer, Albert Hasibuan, Erna Witoelar, Saparinah Sadli, Nusyahbani Katjasungkana, A.M. Fatwa, Adnan Buyung Nasution, Permadi, beberapa simpatisan LSM maupun organisasi kemasyrakatan, staf kedutaan asing, dan tokoh-tokoh lain dari berbagai profesi.
Kronologi Mundurnya Presiden Soeharto, Urutan Peristiwa Lengsernya Presiden Soeharto, Detik-detik Lengsernya Presiden Soeharto
Pukul 12.30
Mesesneg Saadillah Mursjid setelah bertemu dengan Presiden Soearto, mengungkapkan besok pagi (Mei 21), pemerintah secara resmi akan mengumumkan susunan awal keanggotaan Komite Reformasi.

Pukul 14.30
14 dari 16 menteri dibawah koordinasi Menko Ekuin sedang mengadakan rapat di Bappenas. Dua menteri saat itu tidak dapat hadir, diantaranya Menpreindag Mohamad "Bob" Hasan dan Menkeu Fuad Bawazier. 

Ke-14 menteri yang hadir saat itu menyatakan tidak bersedia menjadi menteri lagi dalam kabinet yang akan di-reshuffle. Keputusan ini awalnya direncanakan untuk disampaikan langsung kepada Presiden Soeharto, tetapi akhirnya diputuskan untuk menyampaikannya melalui surat.

Pukul 16.45
Di Lantai III gedung lama, perwakilan mahasiswa menemui pimpinan MPR/DPR. Juru bicara mahasiswa dari Universitas 17 Agustus mengatakan kepada wartawan hasil dari pertemuan itu.

Dia menyebutkan adanya kesepakatan dengan pimpinan DPR, "Pimpinan DPR akan segera menyurati Presiden dan menyarankan agar presiden mengundurkan diri. Untuk itu, diberi batas waktu sampai Jum'at, 22 Mei 1998. Jika masih tidak ada kepastian, maka pada Senin, 25 Mei 1998, pimpinan DPR akan mempersiapkan Sidang Istimewa MPR."

Pukul 18.00
Di kediaman Presiden di Jalan Cendana No. 8-10 sedang berlangsung rapat yang dipimpin oleh Saadillah Mursjid. Peserta dari rapat tersebut diantaranya adalah Staf Khusus Sekab Yusril Ihza Mahendra, staf khusus Mensesneg Sunarto Sudarno, Sekretaris Militer Presiden Mayjen Jasril Jakub, Wakil Sekretaris Kabinet Bambang Kesowo, dan seorang dokter kepresidenan. Dalam rapat tersebut materi yang dibahas adalah persiapan pembentukan Komite Reformasi.

Yusril menyodorkan sebuah surat tanpa kop yang isinya pernyataan yang ditandatangani 14 Menteri Kabinet Pembangunan VII, berisi bahwa mereka menolak untuk ikut dalam dalam kabinet baru hasil reshuffle.

Pukul 20.00 - 21.00
Saadillah Mursjid berniat untuk masuk ke kamar Pak Harto dan melaporkan tentang surat pengunduran diri ke-14 menteri itu. Tetapi di waktu yang sama tiba-tiba saja Wakil Presiden Habibie datang dan menemui Pak Harto.

Pukul 21.30
Wapres Habibie langsung pulang setelah bertemu dengan Pak Harto. Wapres Habibie kemudian meminta ajudannya agar memanggil keempat menteri koordinator dan 14 menteri lainnya.

Pukul 21.50
Saadillah Mursjid bergantian untuk menemui Pak Harto dan melaporkan mengenai Komite Reformasi yang belum bisa terbentuk. Setelah itu, Saadillah menyodorkan surat pernyataan ke-14 menteri itu kepada Pak Harto.

Pak Harto kemudian langsung mengatakan, "Kalau begitu saya berhenti." Pak Harto saat itu juga segera memerintahkan Saadillah untuk mempersiapkan agar pengunduran dirinya sebagai presiden sesuai dengan konstitusi. Rencana pengunduran diri Presiden Soeharto mulai menyebar.

Pukul 22.00 
Nurcholish dan kawan-kawan yang mendapat telepon dari Quraish Shihab tentang pengunduran diri Presiden Soeharto segera mempersiapkan pernyataan yang akan disampaikannya kepada wartawan.

Pukul 22.30
Sementara itu Yusril Ihza Mahendra menelpon Malik Fadjar untuk mengonfirmasi perihal pengunduran diri Presiden Soeharto. Dalam keterangan Yusril kepada Malik Fadjar, Yusril menyebutkan tengah menyiapkan naskah pengunduran diri Presiden Soeharto.

Pukul 23.30
Yusril sedang mempersiapkan naskah Lengser Keprabon, hal ini dilakukan karena Presiden Soeharto ingin pengunduran dirinnya dilakukan secara sah dan konstitusional.

Pukul 24.00
Sawarta menerima telpon dari Yusril Ihza Mahendra, Yusril meminta jaminan legalitas dari MA bahwa pungunduran diri itu tidak melanggar konstitusi. Berdasar pada pasal-pasal dalam Ketetapan MPR yang mendukung Pasal 8 UUD 1945, Sawarta mengatakan "Tidak ada masalah.."

Kamis, 21 Mei 1998


Pukul 00.20
Nurcholish Madjid dan Amien Rais mengadakan sebuah jumpa pers di Jalan Indramayu No. 14, kediaman Malik Fadjar. Dalam jumpa pers itu, Amien Rais mengemukakan langkah yang perlu diambil oleh pemerintah baru jika seandainya Presiden Soeharto mengundurkan diri.

Pukul 04.00
Yusril Ihza Mahendra menemui Pak Harto dan menyampaikan naskah yang telah dibuatnya, naskah itu berjudul Pernyataan Berhenti Sebagai Presiden RI. Ketika Yusril membacakan naskah tersebut, nampak tenang wajah dari Pak Harto.

Pukul 07.00
Di kediaman Harmoko, seluruh pimpinan DPR berkumpul untuk sebuah rapat singkat. Kemudian, mereka bersama-sama menuju Istana Merdeka.

Pukul 08.25
Di halaman samping Istana Merdeka, Wakil Presiden B.J. Habibie tiba dengan menggunakan mobil bernomor polisi B-2, kedatangan Wakil Presiden itu diiringi dengan konvoi pengawalan Pasukan Pengaman Presiden.

Pukul 08.30
Dengan didampingi putri sulungnya Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut), Presiden Soeharto tiba di tempat yang sama dengan mobil bernomor polisi B-1. Presiden Soeharto tiba dengan menggunakan pakaian sipil harian berupa safari lengan pendek berwarna abu-abu gelap.

Sementara Tutut yang turut serta mendampingin Pak Harto, tidak lagi mengenakan lencana menteri, Najaka. Menteri Kabinet Pembangunan VII yang hadir diantaranya Menkeh Muladi, Menpen Alwi Dahlan, Mensesneg Saadillah Mursjid, dan Menhankam / Pangab Jenderal Wiranto. Tidak lama setelah itu, tiba pimpinan Mahkamah Agung.

Pukul 08.40
Ketua MPR/DPR Harmoko dan empat wakil MPR/DPR diantaranya Abdul Gafur, Ismail Hasan, Syarwan Hamid, dan Fatimah Achmad tiba di tempat yang sama. Saat itu Pimpinan DPR dipersilahkan menunggu. Presiden Soeharto saat itu sedang bertemu dengan Ketua MA di Ruang Jepara.

Pukul 08.45
Di Ruang Jepara, sedang berlangsung konsultasi antara pimpinan DPR dan Presiden Soeharto. 

Pukul 09.00
Presiden Soeharto meninggalkan Ruang Jepara. Sembari berdiri, Presiden Soeharto meminta agar kelima pimpinan DPR tetap berada di Ruang Jepara. Presiden mengatakan. "Saudara-saudara di sini saja. Biar saya yang mengumumkan kepada masyarakat." Soeharto kemudian berjalan ke Credential Room.

Pukul 09.06
Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia. Pak Harto juga mengatakan ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya atas bantuan dan dukungan rakyat selama beliau memimpin. Pak Harto juga menyampaikan permintaan maaf bila ada kesalahan dan kekurangan-kekurangan.


Sesuai dengan Pasal 8 UUD 1945, maka Wakil Presiden B.J. Habibie akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden Mandataris MPR 1998-2003. Pak Habibie maju ke depan mikrofon untuk mengucapkan sumpah.
Kronologi Mundurnya Presiden Soeharto, Urutan Peristiwa Lengsernya Presiden Soeharto, Detik-detik Lengsernya Presiden Soeharto
Usai Pak Habibie mengucapkan sumpah, Pak Harto kemudian menghampiri Pak Habibie dan menjabat tangannya. Lalu, Pak Harto bersalaman dengan pimpinan Mahkamah Agung. Setelah itu, Pak Harto kembali ke Ruang Jepara dan memberi tahu Ketua MPR/DPR Harmoko dan empat Wakil Ketua MPR/DPR bahwa upacara pengunduran diri dan serah terima jabatan presiden sudah selesai dilakukan.

Sementara itu di Credential Room, usai Habibie resmi mengucapkan sumpah sebagai Presiden, Menhankam / Pangab Jenderal Wiranto mengatakan, "ABRI akan tetap menjaga keselamatan dan kehormatan para mantan Presiden Mandataris MPR, termasuk mantan Presiden Soeharto beserta keluarga."

Referensi :
Luhulima, James. Hari-Hari Terpanjang. Jakarta : Kompas Media Nusantara, 2001.

0 comments