Bangsa Arab dan Islam

Bangsa Arab dan Islam. Bangsa Arab merupakan materi, penegak dan spirit Islam. Mereka diberi tugas dakwah membawa risalah Islam ke punjuru alam, dan hal tersebut telah mereka lakukan. Kitab suci Al-Qur'an telah diturunkan dengan bahasa mereka. 

Mereka telah mengambil manfaat dari Islam, dengan karakter mereka yang spesifik, mulai dari keberanian dan sikap keterusterangan, memuliakan tamu, kecemburuannya terhadap harga diri, perangai dan nilai-nilai moral, pemenuhan terhadap yang ma'ruf, menyantuni orang lemah, menjaga tetangga, dan sebagainya. 

Allah swt. berfirman dengan menjelaskan keutamaan Al-Qur'an terhadap orang Arab :
"Dan sesungguhnya Al'Qur'an itu benar-benar suatu kemuliaan bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban." (Q.S.Az-Zukhruf:44)

Allah swt. juga berfirman : 
"Sesungguhnya telah Kami turunkan kepadamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya ?" (Q.S.Al-Anbiyaa':10)

Turunnya Al-Qur'an di Jazirah Arab dan dengan bahasa Arab, merupakan citra tinggi bagi mereka, sekaligus memberi tekanan terhadap tugas dan tanggung jawab yang lebih. Yaitu tanggung jawab kebaikan masyarakat secara umum, untuk menyelamatkan fitrah mereka, ketinggian bahasa mereka dan kemampuannya dalam mengekspresikan dan memberikan pengaruh, kemerdekaan akal dan cita-cita mereka, agar tidak bercokol raja-raja diktator, atau kultus individu pada kalangan tokoh spiritual yang menguasai benak dan pikiran mereka.

Melalui bangsa Arab, Islam menjadi kuat dan tinggi; karena mereka berada di wilayah strategis, jantung dunia Islam. Mereka adalah pelindung Islam, apabila mereka mulia, maka mulialah Isalm, apabila mereka lemah, maka lemahlah Islam. Nabi saw. bersabda :

"Apabila bangsa Arab itu hina, maka hinalah Islam." 
(HR. Abu Ya'la, dari Jabin bin Abdullah, dan tergolong hadis shahih).

Sebaliknya, jika bangsa Arab memeluk Islam, mereka lebih baik dan lebih berkat, berdasarkan sabda Nabi saw :
"Manusia itu merupakan tambang dalam kebaikan dan kejelekan." (HR Abu Daud dan Baihaqi)

Sabda beliau pula, "Manusia itu tambang dalam kebaikan dan kejelekan, orang-orang pilihan di antara mereka pada zaman jahiliyah adalah orang-orang terpilih pada zaman Islam, apabila mereka memahami agama."

Dasar Islam berprinsip secara qath'i adalah sebagaimana firmannya dalam Al-Qur'anul Karim : "Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak ada pula mereka saling bertanya." (Q.S.Al-Mu'minuun:101).

Allah swt. juga berfirman, "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang bertakwa di antara kamu." (Q.S.Al-Hujuraat:13).

Nabi saw. menguatkan dasar ini dalam Haji Wada', beliau bersabda : 
"Tidak ada kelebihan untuk orang Arab atas orang selain Arab, kecuali dengan takwa."

Ini menjelaskan kepada kita seputar substansi keislaman, bahwa nilai lebih dalam tugas dan tanggung jawab, tidak membuat mereka lebih superior dibanding bangsa lain. Islam tidak mengenal fanatisme primodial.

Islam datang, dengan membawa misi penghapusan fanatisme yang ada sebelumnya, menempatkannya secara proporsional untuk kepentingan Islam, bukan untuk keluarga atau suku.

Demikian juga apa yang dinamakan dengan fanatisme kebangsaan, dengan melebihkan selain Arab atas orang Arab, menyebutkan kekurangan dan cacatnya bangsa Arab, merupakan masalah yang ditolak Islam.

Islam membuang wawasan kebangsaan yang sempit, yang dewasa ini merupakan warisan abad ke-19, adalah sesuatu yang bertentangan dengan Islam. Syariat, tidak menetapkan dasar fanatisme sempit, termasuk primodialisme kebangsaan dalam berbagai versi.

Tetapi, manakala kebangsaan itu tidak didasari fanatisme - primodialisme kesukuan - sementara ummat secara terbuka tampil di permukaan internasional, tanpa fanatisme kemanusiaan - namun dengan toleransi yang terbuka. Karenannya, syar'i, tata nilai demikian diterima.

Sedangkan gema nasionalisme Arab atau persatuan Arab, maka, hal itu tidak membahayakan apabila tidak mengandung primodialisme golongan dan etnik. Dakwah itu mempunyai kepentingan kemanusiaan yang tidak tertutup, tidak menciptakan superioritas bangsa.
Tugas Bangsa Arab untuk Agama Islam, Arab dan Islam, Tugas Bangsa Arab untuk Menyebarkan Agama Islam, Bangsa Arab dan Al-Qur'an.
Dakwah dilakukan secara bertahap dengan tujuan satu kalimat dan satu barisan, namun tidak membahayakan integrasi berbagai frekuensi. Dakwah dimulai dari tetangga, kemudian berkembang sampai mencangkup semua ummat Islam. Inilah kenyataannya, yang merupakan proyeksi para pemimpin dunia Arab.

Seseorang tidak harus memahami, bahwasannya integrasi keragaman merupakan bentuk lain dari primodialisme jahiliyah. Tetapi, lebih merupakan strategi bertahap dalam mewujudkan kesatuan ummat Islam, kebangkitan bangsanya, mewujudkan ketinggian, kemuliaan dan kekuatannya di depan musuh.

Oleh karena itu, jangan menampakkan perasaan etnik Arab terhadap minoritas non-Arab, sehingga menyinggung minoritas suku di sana, seperti suku Kurdi, Syarkasiyyah dan Barbar. Karena Islam melindungi semuanya tanpa membedakan dan melebihkan di antara pengikut-pengikutnya.

Akan tetapi, tugas bersama antara negara-negara Arab dalam menjaga ancaman dari hal-hal yang membahayakan, sebagaimana bercokolnya sebuah duri yang mematikan, pada tempat tinggal mereka, yaitu negara Israil.

Organisasi dan kesatuan barisan, secara eksternal ditujukan untuk menghadapi Zionisme, menghancurkan strategi dan ambisinya. Sebab realitas Zionisme adalah fakta primodialisme yang destruktif, menentang bangsa Arab yang berdekatan dengan mereka (Israil).
Maka sesungguhnya peluru yang dilemparkan oleh musuh dan jatuh di tanah Arab, sama sekali tidak mengindahkan, apakah mereka Muslim atau non-Muslim. Semua orang Arab harus mempertahankan eksistensi dan kedudukannya, menggalang semua kekuatan dan kemampuan yang dimiliki mereka.

Sehingga terorganisir satu kekuatan untuk menolak Zionisme promodial yang destruktif, yang didukung oleh Barat (Amerika) dan juga musuh dari Timur, yang dulu dipimpin oleh Uni Soviet, sebelum keruntuhannya.

Zionisme yang telah mendasari eksistensinya dangan cerita-cerita bohong, melalui interpretasi keagamaan versi Barat, harus dihadapi dengan iman sepenuhnya kepada Allah swt. tertanamnya pengetahuan tentang iman dalam diri bangsa Arab dan orang-orang Islam.

Tertanamnya ruh jihad di jalan Allah, berkorban untuk seluruh ummat, rindu terhadap surga, cinta mati syahid di jalan Allah, zuhud di dunia yang tidak meruntuhkan kemuliaan dan keluhuran.

Telah dimaklumi. secara historis, lepasnya dunia Arab dari pusat kepemimpinan Islam, yang kemudian berpindah ke tangan golongan yang tidak memenuhi komitmennya terhadap Islam, telah melemahkan negara-negara Islam.

Dan juga telah menjatuhkan ketinggian ummat Islam, merusak perasaan Islam yang benar, perasaan jujur terhadap nurani Islam, tertutupnya ruh orang-orang Islam dan hatinya dari cahaya Al-Qur'an.

Semua orang Islam perlu aktif tanpa harus membedakan orang Arab dan non-Arab. Secara syar'i, kepemimpinan Islam di tangan non-Arab, tidak akan menghalangi langkah sebuah perjuangan.

Tetapi saya menguatkan peranan bangsa Arab yang bertanggung jawab terhadap eksistensi Islam. Tetapi saya tidak setuju adanya primodialisme, arogansi mereka. Saya mengajak seluruh ummat Islam, hendaknya menjaga Islam di halaman haramain yang mulia; yaitu Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha.

Menjaga negeri yang berdekatan dengan tempat mulia itu yang telah diberkati oleh Allah swt. bagi alam semesta. Sebuah tempat suci bagi jiwa semua ummat Muslim, baik orang Arab atau non-Arab.

Sungguh saya tidak megingkari, kecintaan orang-orang Islam, selain orang Arab, terhadap rumah-rumah yang suci itu. Mereka pun berusaha mempertahankannya, bersungguh-sungguh menjaganya, berkorban untuk kemuliaannya.

Bahkan orang-orang Muslim non-Arab juga dituntut sama, dalam segala bentuk aktifitasnya untuk mengambil kembali tanah-tanah yang dirampas (Palestina). Karena jihad di dalam Islam adalah kewajiban bagi seluruh ummat Islam, baik mereka orang Arab atau non-Arab.

Risalah Islam yang diperuntukkan bagi semua manusia, di atas telapak kaki yang sama, tidak ada perbedaan dalam syariat Islam untuk satu orang atas yang lain. Di depan Syariat semua adalah sama, tanpa melebihkan kecuali dengan takwa dan amal saleh.

Sumber :
Zuhaili, Wahbah. Al-Qur'an: Paradigma Hukum dan Peradaban. Surabaya : Risalah Gusti, 1995.

0 comments