Sejarah Perkembangan Sosiologi di Perancis

Sejarah Perkembangan Sosiologi di Perancis. Kekuatan-kekuatan intelektual yang mempengaruhi perkembangan sosiologi muncul di berbagai negara di Eropa Barat, seperti Perancis, Jerman, Inggris, dan Italia. Pertama mari kita mulai dari negara Perancis.

Masa Pencerahan dan Munculnya Sosiologi di Perancis


Pencerahan atau Aufklarung yang dipelopori oleh Charles Montesquieu (1689-1755) dan Jean Jacques Rousseau (1712-1778) mempunyai dampak yang sangat mendalam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern. 


Masa Pencerahan ini ditandai oleh kepercayaan bahwa manusia bisa memahami dan mengontrol jagat-raya dengan akal budinya dan dengan penelitian empiris. Masa Pencerahan itu tentu saja membawa akibat-akibat positif terhadap kehidupan manusia.

Namun tidak dapat disangkal  juga bahwa Aufklarung membawa dampak yang negatif seperti runtuhnya tatanan masyarakat lama. Segala sesuatu yang sebelumnya berjalan begitu teratur kini dijungkir balikkan.

Dalam keadaan yang demikian muncullah beberapa sosiolog di Perancis yang tergugah hatinya untuk menjawab pertanyaan apa yang membuat masyarakat bisa stabil dan harmoni. Para sosiolog awal dari Perancis adalah berikut ini: 

Claude Henri Saint-Simon (1760-1825)

Claude Henri Saint-Simon adalah seorang yang konservatif. Sebagai seorang yang konservatif dia berkeinginan untuk menciptakan suatu masyarakat seperti sebelumnya yang teratur dan harmonis. 

Tetapi pada waktu yang sama dia juga setuju supaya fenomena-fenomena sosial harus dipelajari sebagaimana digunakan di dalam ilmu-ilmu alam. Ide-ide Saint-Simon ini dikembangkan lebih lanjut oleh Auguste Comte.

Baca juga : Sejarah Perkembangan Sosiologi di Inggris dan Italia

Auguste Comte (1798-1857)


Karya Comte dalam artian tertentu dapat dianggap sebagai reaksi melawan Revolusi Perancis yang menciptakan anarki di dalam masyarkat. Guna mengatasi pemikiran keliru yang menyebabkan anarki itu, Comte mengembangkan fisika sosial yang kemudian disebut sosiologi.

Ilmu baru itu dibaginya atas dua, yakni statistika sosial yang berhubungan dengan perubahan sosial. Dalam kedua cabang ilmu itu dia ingin mencari hukum-hukum yang mengatur kehidupan masyarakat. 

Menurut Comte perubahan tidak harus dibuat melalui revolusi karena akibat-akibatnya sangat fatal. Sebaliknya perubahan bisa terjadi melalui proses revolusi dengan hasil yang lebih baik.

Guna menguatkan argumentasinya itu Comte mengemukakan teorinya tentang evolusi, yang disebutnya hukum tiga tahap. Menurut dia, dalam sejarah umat manusia ada tiga tahap teologis yang berlangsung dari awal mula sampai dengan tahun 1300. 
  • Tahap Pertama. Dalam tahap ini, manusia menafsirkan gejala-gejala alam yang terjadi di sekitarnya secara teologis atau sebagai disebabkan oleh Tuhan atau dewa-dewi. 
  • Tahap kedua. Adalah tahap metafisis yang berlangsung dari tahun 1300-1800, dalam tahap ini manusia menafsirkan gejala-gejala alam sebagai sesuatu yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan alam yang bersifat abstrak dan bukan soal dewa-dewi. 
  • Tahap ketiga. Adalah tahap positif, dalam tahap ini manusia menafsirkan gejala-gejala alam tidak lagi disebabkan oleh dewa-dewi atau kekuatan alam yang bersifat abstrak melainkan oleh hukum-hukum alam.
Dengan ketiga tahap itu, Comte menekankan pentingnya peranan intelek dalam menemukan hukum-hukum positif yang mengatur kehidupan masyarakat.


Emile Durkheim (1858-1917)


Sebagaimana Saint-Simon dan Comte, Durkheim juga cemas melihat ketidak-teraturan sosial. Menurut dia, ketidak-aturan sosial tidak harus menjadi bagian dari dunia modern dan dapat dikurangi dengan adanya reformasi sosial.

Dalam hal ini ia berbeda pemikiran dengan Marx yang menyarankan adanya revolusi untuk menciptakan perubahan di dalam masyarakat.

Baca juga : Sejarah Perkembangan Sosiologi di Jerman

Durkheim menulis banyak buku. Dalam buku yang pertama The Rules of Socialogical Method (1895/1964), dia mengemukakan bahwa tugas utama sosiologi adalah mempelajari fakta-fakta sosial.

Fakta-fakta sosial ini adalah kekuatan-kekuatan yang mencangkup hukum, norma, kepercayaan, dan agama. Serta struktur-struktur yang bersifat eksternal terhadap individu tetapi mempengaruhi individu-individu.

Bukunya kedua adalah yang berjudul Suicide (1897/1951). Dalam buku ini ia menjelaskan pengaruh fakta sosial terhadap perilaku individu yang bunuh diri. Dalam mempelajari tingkatan bunuh diri pada kelompok, negara, wilayah, agama yang berbeda dia menemukan bahwa solidaritas yang terlalu lemah atau kuat dapat menyebabkan orang bunuh diri.

Dalam buku yang ketiga The Division of Labor in Society (1893/1964), dia menganalisa ikatan-ikatan sosial pada masyarakat primitif dan masyarakat modern. Dalam masyarakat primitif ikatan solidaritas itu adalah moralitas bersama atau kesadaran kolektif yang disebut solidaritas mekanik. 

Sedangkan dalam masyarakat modern yang ditandai oleh patologi akibat pembagian kerja yang sangat ketat hampir tidak ditemukan kesadaran kolektif seperti pada masyarakat primitif.

Guna menjaga kestabilan masyarakat tidak perlu ada revolusi tetapi hukum-hukum atau norma-norma yang mengatur kehidupan bersama. 

Dalam buku yang terakhir The Elementary Forms of Religious Life (1912/1965), Durkheim melaporkan hasil penelitiannya tentang masyarakat primitf untuk mencaritahu asal-usul kehidupan agama. 

Dalam penelitiannya itu, dia menyebutkan bahwa asal-usul atau sumber dari agama adalah masarakat itu sendiri. Masyarakat itu sendiri mendefiniskan hal-hal tertentu sebagai sakral dan hal-hal lainnya sebagai profan.

Dalam kasus yang diselidikinya, klan atau suku adalah sumber dari agama primitif yang disebut totemisme. Dalam totemisme binatang-binatang atau tumbuhan-tumbuhan tertentu disakralkan atau dianggap semacam dewa.

Baca juga : Sejarah Penyebab Munculnya Sosiologi

Karena itu totem dapat dianggap sebagai salah satu bentuk khusus dari fakta sosial yang bersifat non-material atau salah satu bentuk kesadaran kolektif. Pada akhirnya Durkheim berpendapat bahwa masyarakat dan agama merupakan satu cara yang di dalamnya sebuah masyarakat mengungkapkan dirinya dalam salah satu bentuk fakta sosial yang bersifat non-komersial.

Referensi :
Raho, Bernard. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Prestasi Pustakarya, 2007.

0 comments