Sejarah Perkembangan Sosiologi di Jerman

Sejarah Perkembangan Sosiologi di Jerman. Kekuatan-kekuatan intelektual yang mempengaruhi perkembangan sosiologi muncul di berbagai negara di Eropa Barat, seperti Perancis, Jerman, Inggris, dan Italia. Jika pada artikel sebelumnya kita telah membahas bagaimana Sosiologi dapat berkembang di Perancis, kali ini kita akan membahas Perkembangan Sosiologi di Jerman.
Perkembangan Sosiologi di Jerman, Sejarah Sosiologi di Jerman, Sejarah singkat sosiologi di Jerman, Sosiologi di Eropa Barat.
Kalau sosiologi Perancis cukup konsisten dalam pandangan mereka tentang pentingnya keteraturan sosial sebagai reaksi terhadap Revolusi Perancis dan Aufklarung, maka sosiologi Jerman sejak awal terbagi di antara Karl Marx di satu pihak dan Max Weber dan George Simmel di pihak lain.


Karl Marx (1818-1883)


Marx bukanlah seorang sosiolog dan tidak pernah menganggap dirinya sebagai sosiolog. Dia adalah seorang ahli ekonomi ketimbang seorang ahli sosiologi. Berbeda dengan sosiolog-sosiolog lain yang mengembangkan teori untuk menciptakan keteraturan di dalam masyarakat, Marx malah tertarik kepada fenomena penindasan yang dilakukan oleh kaum kapitalis terhadap kaum buruh.

Dia ingin mengembangkan sebuah teori yang menjelaskan fenomena itu dengan maksud untuk mengilangkan sistem itu (kapitalis). Pokok perhatian Marx adalah terciptanya revolusi dan hal itu sangat bertolak belakang dengan pandangan Saint-Simon, Comte, ataupun Durkheim.
Perkembangan Sosiologi di Jerman, Sejarah Sosiologi di Jerman, Sejarah singkat sosiologi di Jerman, Sosiologi di Eropa Barat.

Kunci untuk memahami Marx adalah idenya tentang konflik sosial. Konflik sosial adalah pertentangan antara segmen-segmen masyarakat untuk merebut aset-aset bernilai. Bentuk dari konflik sosial itu bisa menonjol menurut Marx nampak dalam cara produksi barang-barang material.

Menurut Marx ada dua kelompok yang terlibat dalam proses produksi itu. Kelompok pertama adalah kaum kapitalis, yakni mereka yang mempunyai dan menguasai alat-alat produksi. Kekhasan mereka ialah menjual hasil-hasil produksi sehingga mereka mendapat keuntungan sebesar-besarnya.

Kelompok yang kedua adalah kaum proletariat. Mereka adalah orang yang menyerahkan tenaganya untuk menjalankan alat-alat produksi kaum kapitalis dan sebagai imbalannya mereka mendapat upah dan bukannya barang yang mereka hasilkan.

Proses produksi yang demikian menyebabkan dua hal. Pertama, kaum proletariat mengalami alienasi dalam empat bidang, diantaranya :
  • dari Pekerjaannya (mereka diperlakukan sebagai bagian dari alat produksi)
  • dari Hasil Pekerjaannya (mereka tidak mendapatkan apa yang mereka hasilkan)
  • dari Pekerja lainnya (mereka terasing dan bersaing dengan pekerja lainnya)
  • dari Kemampuan Manusiawi Mereka (terasing dari kemampuan manusiawi mereka sendiri)
Kedua, mereka mengalami konflik dengan kaum kapitalis. Konflik itu menjadi tak terhindarkan karena di satu pihak kaum kapitalis ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan menekan upah buruh serendah-rendahnya. 

Di pihak lain buruh juga menuntut upah setinggi-tinggnya dengan resiko mengurangi keuntungan kaum kapitalis. Oleh karena keuntungan dan upah berasal dari sumber yang sama, maka konflik menjadi tak terelakkan.

Menurut Marx, satu-satunya cara untuk keluar dari sistem kapitalis yang tidak adil itu ialah dengan melakukan revolusi. Tetapi ada syarat yang harus dipenuhi supaya revolusi bisa terjadi.

Pertama, kaum proletariat harus menyadari diri bahwa mereka adalah orang yang tertindas. Kesadaran menjadi sangat penting untuk menciptakan perubahan. Kedua, mereka harus mengelompokkan diri dalam satu wadah atau organisasi.

Secara individual buruh sulit memperjuangkan kepentingannya tetapi lewat organisasi mereka menjadi lebih kuat dalam memperjuangkan aspirasinya. Marx mengikuti betapa sulitnya menciptakan kesadaran itu. Tetapi dia yakin pada suatu waktu dengan penyebaran informasi yang terus-menerus (propaganda) mereka menyadari bahwa merekalah yang menetukan masa depannya sendiri. 


Max Weber (1864-1920)


Kalau Marx tertarik dengan masalah kapitalisme, Weber malah tertarik dengan masalah rationalisasi. Bagi Weber, rationalisasi berarti pertimbangan-pertimbangan yang dibuat sebelum orang melakukan sesuatu. 

Pertimbangan-pertimbangan itu menyangkut tujuan sebuah tindakan dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan itu. Weber melihat bahwa birokrasi adalah contoh dari rationalisasi. 
Perkembangan Sosiologi di Jerman, Sejarah Sosiologi di Jerman, Sejarah singkat sosiologi di Jerman, Sosiologi di Eropa Barat.

Dalam sistem birokrasi orang mencari cara-cara agar yang rational untuk mencapai tujuan. Dalam dunia modern kini, contoh dari rationalisasi adalah siap saji di mana segala sesuatu dibuat serational mungkin supaya lebih cepat.

Kemudian Weber memperluas diskusi tentang birokrasi itu ke dalam institusi-institusi politik. Dia membedakan tiga macam otoritas di dalam institusi politik, yakni :
  • otoritas tradisional
  • otoritas kharismatik
  • otoritas rational-legal
Menurut dia, otoritas rational-legal memacu pertumbuhan birokrasi. Sedangkan otoritas tradisional dan kharismatik menghambat pertumbuhan birokrasi. Berdasarkan studi perbandingan yang dibuatnya di Eropa, India, dan Cina dia menemukan bahwa otoritas tradisional dan kharismatik sangat dominan di India dan Cina sedangkan birokrasi bertumbuh subur di Eropa.

Dalam otoritas yang rational-legal seorang pemimpin dipilih berdasarkan undang-undang yang dibuat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rational. 

Selain membuat analisa tentang hubungan antara rationalisasi dan birokrasi, Weber juga mendiskusikan hubungan antara agama dan kapitalisme. Dalam penelitiannya, Weber mencari tahu mengapa sistem ekonomi yang rational seperti kapitalisme bertumbuh subur di Eropa Barat daripada di bagian-bagian dunia lainnya.

George Simmel (1858-1918)


Simmel adalah seorang sosiolog keturunan Yahudi yang mendapat banyak perlakuan diskriminasi di Universitas Berlin sehingga ia kurang terlalu terkenal di kalangan akademis. Tetapi Simmel mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap Chicago School (aliran Chicago) dan teori interaksionisme simbolik yang mendominasi Amerika selama beberapa dasawarsa.
Perkembangan Sosiologi di Jerman, Sejarah Sosiologi di Jerman, Sejarah singkat sosiologi di Jerman, Sosiologi di Eropa Barat.

Ide-ide Simmel sangat berpengaruh terhadap Chicago School dan interaksionisme simbolik karena tokoh-tokoh utama dari Chicago School seperti Albion Small dan Robert Park sudah sangat terbiasa dengan ide-ide Simmel ketika mereka belajar di Universitas Berlin. Merekalah yang menyebarkan ide-ide Simmel ini ke Chicago.

Simmel terkenal karena analisanya berpusat pada masalah-masalah yang berskala kecil seperti aksi dan interaksi. Menurut dia tugas utama sosiologi adalah memahami interaksi di antara manusia. 

Dalam karyanya yang terkenal Dyad dan Triad (kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang), Simmel mengemukakan bahwa perkembangan penting dalam sosiologi terjadi ketika kelompok Dyad (dua orang) diubah ke dalam kelompok Triad (tiga orang) dengan menambahkan orang yang ketiga.

Kemungkinan-kemungkinan sosial sulit terjadi dalam kelompok yang terdiri dari dua orang. Dalam kelompok tiga orang beberapa kemungkinan bisa terjadi. Bisa jadi salah seorang dari antara ketiga bisa menjadi penengah untuk dua orang yang bertikai.


Tetapi bisa juga terjadi bahwa yang dua orang bersatu dan menguasai yang satu orang. Jadi, dalam kelompok tiga orang interaksinya jauh lebih kaya daripada kelompok dua orang. 

Referensi :
Raho, Bernard. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Prestasi Pustakarya, 2007.

0 comments