Sejarah Penyebab Munculnya Sosiologi

Sejarah Penyebab Munculnya Teori Sosiologi. Setiap ilmu pengetahuan, apa lagi pengetahuan sosial, merupakan hasil konstruksi jamanannya. Dengan kata lain, setiap bidang ilmu pengetahuan berkembang dan dibentuk oleh lingkungan sosial pada masanya.

Sosiologi sebagai salah satu cabang ilmu sosial lahir sebagai akibat dari beberapa perkembangan sosial pada jamannya. Ada dua kekuatan raksasa yang membidani kelahiran sosiologi, yakni kekuatan-kekuatan sosial dan kekuatan-kekuatan intelektual (perkembangan ilmu pengetahuan).

Baca juga : Sejarah Perkembangan Sosiologi di Jerman

Pada bagian berikut ini, kita akan menguraikan dua kekuatan yang mempengaruhi kelahiran sosiologi dan perkembangan teori sosiologi modern (Ritzer, 1988:3-27).

Kekuatan-Kekuatan Sosial

Kekuatan-kekuatan sosial pada abad 19 hingga awal abad 20 yang turut membantu melahirkan teori-teori sosiologi adalah :

Revolusi Politik yang diawali oleh Revolusi Perancis


Revolusi-revolusi tersebut membawa banyak dampak positif untuk kehidupan masyarakat di banyak negara. Tetapi hal yang menarik perhatian para ilmuwan sosial pada waktu itu bukanlah hasil-hasil yang positif melainkan dampak negatif dari perubahan-perubahan yang dihasilkan oleh revolusi-revolusi itu. 
Sejarah Penyebab Munculnya Teori Sosiologi,  Sebab munculnya sosiologi, Sejarah munculnya sosiologi, sebab muncul teori sosiologi.
Mereka merasa sangat terganggu dengan adanya chaos dan ketidak-teraturan, khususnya di Perancis. Karena itu, para ilmuwan sosial bersatu dalam tekad mereka untuk membangun keteraturan yang sudah diporak-porandakan oleh Revolusi Perancis dan revolusi-revolusi lainnya.

Baca juga : Sejarah Perkembangan Sosiologi di Perancis

Mereka ingin menemukan dasar-dasar baru yang membuat masyarakat bisa bersatu dan terintegerasi. Perhatian terhadap masalah integrasi dan ketertiban sosial ini telah menjadi perhatian utama dari Auguste Comte dan Emile Durkheim.

Revolusi Industri dan Kebangkitan Kapitalisme


Munculnya revolusi di negara-negara Eropa Barat menyebabkan banyak orang meninggalkan dunia pertanian dan bekerja pada industri-industri. Pabrik-pabrik muncul di mana-mana. Kebangkitan industri melahirkan sistem kapitalis dengan segala masalah yang ditimbulkannya. 

Para pemilik modal yang jumlahnya sedikit mendapat banyak keuntungan sedangkan buruh yang jumlahnya banyak mendapat mendapat cuma sedikit keuntungan dari sistem kapitalis. Problem-problem ini menarik perhatian para sosiolog awal, seperti Marx dan mencoba mencari jalan keluar.

Bangkitnya Sosialisme 


Problem-problem yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme menyebabkan beberapa sosiolog awal menganjurkan sosialisme sebagai jalan keluar. Kendati Marx sangat memperjuangkan jalan sosialisme untuk mengatasi masalah-masalah yang diciptakan oleh sistem kapitalisme, namun tidak semua sosiolog sependapat dengan dia. 

Durkheim dan Weber misalnya, sekalipun mereka mengakui adanya masalah dalam sistem kapitalis, namun mereka lebih suka memperbaiki sistem kapitalis itu dari pada mengadopsi revolusi sosial seperti yang dikemukakan oleh Marx.


Urbanisasi


Sebagai salah satu akibat dari revolusi industri ialah berpindahnya banyak penduduk dari desa ke kota. Hal ini disebabkan karena kota telah menjadi pusat pendirian pabrik-pabrik, pusat pendidikan, dan hiburan.

Perkembangan kota-kota menimbulkan sejumlah permasalahan seperti kelebihan penduduk, polusi, keributan, kemacetan lalulintas, dan lain-lain. Persoalan-persoalan seperti ini menarik perhatian para sosiolog untuk menjelaskan fenomena-fenomena sosial ini dengan ilmu yang mereka kembangakan.


Perubahan Kehidupan Keagamaan


Revolusi dalam dunia politik, revolusi industri dan urbanisasi telah membawa dampak yang mendalam terhadap kehidupan keagamaan. Agama kehilangan kekuatannya sebagai satu-satunya otoritas dalam bidang moral. 
Kekuasaannya dalam bidang-bidang lainpun menjadi berkurang. Bersamaan dengan itu muncul antiklerikalisme, agnotisisme, dan aliran filsafat yang memproklamirkan diri sebagai aliran ateis.

Kebanyakan sosiolog awal berasal dari keluarga-keluarga yang taat beragama dan cukup terlibat dalam kehidupan agama. Karena itu, ada semacam keinginan untuk kembali kepada tatanan masyarakat lama yang teratur. 

Referensi :
Raho, Bernard. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Prestasi Pustakarya, 2007.

0 comments