Ilmu Sejarah Menurut Agama Islam

Ilmu Sejarah Menurut Agama Islam. Sejarah dalam bahasa Indonesia merupakan sebuah kata yang bermakna sama dengan History dalam bahasa Inggris. History berasal dari kata benda Yunani "istoria" yang berarti ilmu. Sedangkan kata sejarah dalam bahasa Indonesia adalah kata yang diperoleh dari bahasa Arab yaitu "Syajarotun".
ilmu sejarah menurut agama islam, pandangan islam tentang sejarah, bagaimana islam memandang ilmu sejarah, ilmu sejarah dalam islam, islam mengenal ilmu sejarah.
Di era Yunani kata "istoria" diperuntukkan bagi pemaparan mengenai gejala-gejala, terutama hal ihwal manusia, dalam urutan kronologis. Sekarang History menurut definisi yang paling umum berarti masa lampau umat manusia.

Sedangkan Historiografi adalah gabungan dua kata yang terdiri dari history (sejarah) dan grafi (penulisan). Penulisan sejarah adalah usaha rekonstruksi peristiwa yang terjadi di masa lampau.

Sejarah seperti yang dipahami sekarang ini, dalam bahasa Arab Islam adalah al-tarikh. Dalam kitab-kitab kamus bahasa Arab dan kitab-kitab suci sejarawan klasik. Kata itu dipandang sebagai kata bahasa Persia atau Siryani yang diarabkan dan mempunyai arti yang berbeda-beda.

Akan tetapi, yang umum diterima adalah bahwa kata tarikh berasal dari kata Arab. Kata tarikh sendiri berdekatan dengan kata yarikh (bulan/di langit atau bulan/tigapuluh hari) dalam bahasa Ibrani.

Namun, kata tarikh dalam sifat umumnya, menunjukkan ilmu yang berusaha menggali peristiwa-peristiwa masa lalu agar tidak dilupakan. Sepadan dengan pengertian "history" yang menunjukkan ilmu yang membahas peristiwa-peristiwa masa lalu.

Perkembangan Penulisan Sejarah dalam Islam


Perkembangan ilmu sejarah dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari perkembangan budaya secara umum yang berlangsung sangat cepat. Dalam bidang politik hanya dalam satu abad lebih sedikit, Islam sudah menguasai Spanyol, Afrika Utara, Suriah, Palestina, Semenanjung Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang dikenal sebagai Pakistan, Turkmenia, Uzbekistan, dan Kirigistan di Asia Tengah.

Kebangkitan Islam di masa ini telah melahirkan sebuah imperium, mengalahkan dua imperium besar yang sudah ada sebelumnya seperti : Persia dan Byzantium (Romawi Timur). Sejalan dengan kebangkitan umat Islam, umat Islam juga mulai untuk menggalakan pengembangan ilmu pengetahuan.

Puncak dari kebangkitan budaya dan peradaban Islam itu terjadi pada masa dinasti Abbasiyah (abad ke-9 dan ke-10). Ketika itu, cendikiawan-cendikiawan Islam bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan dan filsafat yang mereka pelajari dari buku-buku Yunani, tetapi mereka melakukan sendiri hasil pemikiran mereka dalam bidang filsafat.

Ketika umat Islam sudah mencapai kemajuan dalam penulisan sejarah, tidak ada bangsa lain pada waktu itu yang menulis sejarah seperti halnya kaum muslimin. Tokoh-tokoh sejarah menulis ribuan buku dengan judul yang berbeda yang menggambarkan isinya masing-masing.

Karena mereka mendapatkan hal yang sama di dalam Al-Qur'an tentang kisah-kisah umat yang telah lalu, oleh karena itu karya-karya pertama berisi berita penciptaan bumi, turunnya Nabi Adam, kisah parah Nabi, riwayat hidup Nabi Muhammad.

Kebanyakan karya seperti itu berjudul :
  • Akhbar (Berita...)
  • Siyar (Biografi...)
  • Maghazi (Perang zaman Nabi...)
  • Tarikh (Sejarah...)
  • Futuh (Penaklukan...)

Sejarawan muslim juga mengkaitkan sejarah dengan berbagai disiplin ilmu seperti sastra, politik, sosial, fiqih, geografi, dan rihlah (kisah perjalanan). Judul karya seperti ini di antaranya :
  • Gharib (Yang asing...)
  • Tuhfat (Pengembaraan...)
  • Uqud (Transaksi...)
  • Durr (Permata...)
  • Nuzhab (Wisata...)
  • al-Hasan (Yang baik...)
  • Haqa'iq (Hakikat...)
  • Rawdhah (Taman...)
  • al-Kharidah
  • Khuthath (Garis...)

Akan tetapi sayang karya-karya itu sebagian besar tidak sampai ke generasi kita. Ini dikarenakan terjadi peristiwa pemusnahan buku-buku saat pembumihangusan kota Bagdad oleh tentara Hulagu Khan pada tahun 1298 M.

Terdapat dua faktor pendukung utama berkembangnya penulisan sejarah dalam Islam :


Pertama


Al-Qur'an. Kitab suci umat Islam memerintahkan umatnya untuk memperhatikan sejarah. Bahkan beberapa ayat Al-Qur'an dengan jelas memerintahakan hal itu. Diantaranya Al-Qur'an surat 30 ayat 9 yang artinya "Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi ini sehingga mereka dapat melihat bagaimana kesudahan (sejarah) orang-orang sebelum mereka. 

Dan ayat Al-Qur'an surat 59 ayat 18 yang artinya "Dan hendaklah seseorang itu memperhatikan apa yang telah berlalu (sejarah) untuk hari kedepan mereka". Al-Qur'an tidak hanya memerintahkan umatnya untuk memperhatikan perkembangan sejarah manusia, tetapi Al-Qur'an juga menyajikan banyak kisah, seperti :
  1. Kisah para Nabi. Kisah Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, Nabi Ismail, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad.
  2. Kisah orang terdahulu yang tidak termasuk kategori Nabi. Kisah Thalut, Jalut, dua orang putera Nabi Adam, Ashhab al-Kahfi (penghuni gua), Zulkarnaen, Karun, Firaun, dan Maryam
  3. Kisah yang berhubugan dengan peristiwa yang terjadi di masa Nabi Muhammad. peristiwan Perang Badar, Perang Uhud, Perang al-Azhab, Perang Hunain, Perang Tabuk, dan Isra.

Kedua


Ilmu Hadits. Ajaran Islam yang terkandung di dalam Al-Qur'an secara umum hanya mencangkup garis besarnya saja. Untuk itu peran Nabi seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT adalah untuk menjabarkan garis besarnya, menerangkan yang masih dipandang umum & tersamar, dan bahkan membuat hukum-hukum yang belum terdapat dalam Al-Qur'an.

Di awal perkembangan Islam, ilmu Hadits merupakan ilmu yang paling tinggi dan paling diperlukan untuk umat Islam pada waktu itu. Para ulama kemudian berpergian dari dari satu kota ke kota lain hanya untuk mencari beberapa Hadits dan meriwayatkannya.

Dapat dikatakan bahwa penulisan Hadits inilah yang merupakan perintis jalan menuju perkembangan ilmu sejarah. Disamping itu, dalam rangka menyeleksi hadits yang benar dan yang salah maka diperlukan ilmu kritik Hadits. Ilmu ini pula yang dijadikan metode kritik penulisan sejarah yang paling awal.

Posisi Ilmu Sejarah dalam Ilmu-Ilmu Keislaman


Meskipun umat Islam ternyata sangat memperhatikan penulisan sejarah, para cendikiawan muslim ketika itu tidak sepakat dalam menempatkan sejarah sebagai ilmu dalam jajaran ilmu-ilmu lainnya.

Selama periode pengambilalihan pengetahun Yunani, sarjana-sarjana Islam untuk pertama kalinya berkenalan dengan klasifikasi bermacam-macam cabang ilmu pengetahuan. Klasifikasi mengenai ilmu pengetahuan yang diambil alih oleh orang-orang Islam tidak menentukan tempat khusus bagi sejarah.

Demikianlah klasifikasi ilmu pengetahuan yang disusun oleh al-Kindi (252 H), al-Farabi (259-339 H), Ibnu Sina, dan al-Ghazali. Bahkan Ibnu Khaldun yang dikenal luas sebagai ahli sejarah dalam Islam juga tidak menyebutkan sejarah di dalam pembidangan ilmu yang dilakukannya.
ilmu sejarah menurut agama islam, pandangan islam tentang sejarah, bagaimana islam memandang ilmu sejarah, ilmu sejarah dalam islam, islam mengenal ilmu sejarah.
Akan tetapi, di samping ada yang tidak menempatkannya di dalam kerangka ilmu pengetahuan, ada juga yang mencoba menentukan posisinya. Namun mereka juga tidak bersepakat tentang posisi itu. 
  1. Ibn Nadim pada abad ke-10 dalam kitabnya al-Fihrist membagi ilmu yang berkembang pada masanya menjadi sepuluh bagian besar. Ilmu sejarah ditetapkannya pada bagian ketiga dari bukunya itu.
  2. Al-Khawarizmi (997 M) dalam kitabnya Mafatih al-Ulum membagi ilmu menjadi dua bagian besar, yaitu Ulum al-'Arab (ilmu-ilmu Arab/Keislaman) dibaginya menjadi enam bab dan Ulum al-'Ajam (ilmu-ilmu bukan Arab) dibaginya menjadi sembilan bab. Al-Khawarizmi menempatkan sejarah sebagai satu dari enam ilmu pengetahuan Arab/Keislaman itu.
  3. Rasa'il Ikhwan al-Shafa memasukkan ilmu biografi dan sejarah sebagai bagian dari ilmu-ilmu implementer, sederajat dengan membaca, menulis, tata bahasa Arab, dan puisi.
  4. Ibn Hazm dari Andalus dalam bukunya Maratib al-Ulum meletakkan sejarah pada tempat yang penting di dalam kurikulum persiapan dari ilmu-ilmu fisika, matematika, dan linguistik.

Meskipun ilmu sejarah belum dianggap sebagai suatu disiplin ilmu, hal itu tidak berarti kemudian dalam perkembangannya sejarah menjadi ilmu yang tidak penting karena ternyata karya-karya sejarah terus bermunculan dan secara sistematis tetap dibaca oleh sarjana-sarjana yang mempunyai minat besar terhadap sejarah.

Kegunaan dan Manfaat Historiografi Islam


Sehubungan dengan kajian terhadap historiografi Islam, ada beberapa manfaat yang dapat ditarik :
  1. Untuk mengetahui pandangan, metode penelitian, dan metode penulisan sejarah yang dilakukan para sejarawan muslim di masa silam, sehingga dapat dilakukan kajian kritis terhadap karya-karya sejarah mereka.
  2. Untuk mengenal sumber sejarah Islam. Abd al-Mun'im Majid berpendapat bahwa karya-karya sejarah yang ditulis pada masa klasik dan pertengahan Islam, banyak di antaranya yang dapat dikategorikan sebagai sumber primer, karena karya-karya itu banyak memaparkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa hidup penulis atau dikutip dari karya-karya yang memaparkan peristiwa-peristiwa yang sezaman dengan penulis.
  3. Untuk mendapatkan sumber-sumber yang benar di antara sumber-sumber yang banyak dianggap "primer" itu. 
Referensi :
Yatim, Badri. Historiografi Islam. Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997.

0 comments