3 Aliran Penulisan Sejarah di Masa Awal Islam

3 Aliran Penulisan Sejarah di Masa Awal Islam. Penulisan sejarah dalam Islam berkembang dari masa ke masa, mengikuti perkembangan peradaban Islam. Pada awal mulanya karena keperluan agama, umat Islam mulai meriwayatkan hadits-hadits Nabi, termasuk didalamnya perang-perang Nabi dan para sahabat yang berpartisipasi.

Penulisan Hadits itu dapat dikatakan sebagai cikal bakal penulisan sejarah. Dari penulisan hadits-hadits Nabi itu, para sejarawan segera memperluas cakupan sejarah. Pertama-tama yaitu mereka mengembangkannya kepada riwayat-riwayat yang berkenaan dengan perang-perang Nabi yang disebut dengan al-maghazi.

Penulisan al-maghazi ini melapangkan jalan bagi penulisan biografi Nabi yang biasa disebut dengan al-sirah. Para penulis sejarah seperti ini pertama-tama adalah putera-putera sahabat Nabi, seperti Utsman ibn 'Affan, Urwah ibn Zubayr, dan yang paling terkenal sebagai penulis al-maghazi adalah Muhammad ibn Muslim al-Zuhri.
3 aliran penulisan sejarah di masa awal islam, beberapa aliran penulisan sejarah di awal islam, aliran penulisan sejarah dalam islam.
Perkembangan penulisan sejarah Islam akhirnya sampai kepada dua tahap, Husein Nashshar menyimpulkan bahwa penulisan sejarah Arab Islam tumbuh dari dua arus yang berbeda :

Arus lama


Yang terdiri dari cerita-cerita khayal yang dipengaruhi oleh corak "sejarah" Arab klasik yang disampaikan oleh narator-narator yang berpindah-pindah dari Arab Utara, dalam bentuk al-ansab dan al-ayyam.

Dan cerita tentang raja-raja Arab Selatan, serta riwayat penaklukan mereka. Biasanya, arus lama ini mengambil bentuk syair. Kisah-kisah ini tidak didasarkan atas penanggalan (kronologis) kejadian, antara satu peristiwa dengan peristiwa lain tidak ada hubungannya.

Arus Baru


Arus Baru yang dimunculkan dalam Islam yaitu arus biografi, yang terdiri dari berita-berita autentik dan mendalam, cabang dari ilmu hadits, oleh karena itu melalui kritik dan seleksi, terdiri dari kisah-kisah yang benar dan kadang-kadang juga ada kisah khayal.

Dengan disinari oleh ayat Al-Qur'an, sejarawan kemudian mengumpulkan kisah-kisah itu, menyusunnya, menghubung-hubungkan antara satu dengan yang lain. Sejalan dengan semakin berkembangnya penulisan sejarah dalam agama Islam, terdapat tiga aliran penulisan sejarah yang sangat penting untuk kita ketahui, diantaranya :

Aliran Yaman


Yaman adalah sebuah negeri yang terletak di bagian selatan Jazirah Arab, karena itu sering juga disebut sebagai Arab Selatan. Berbeda dengan Arab bagian utara yang diwaktu sama dengan Arab Selatan, Arab Utara kurang mendalami dan berminat tentang menulis.

Negeri Yaman bahkan pernah mengalami kemajuan peradaban. Pada masa kebangkitan Islam pertama, penduduk Yaman dapat dikatakan sebagai penduduk yang sedikit lebih berperadaban daripada penduduk Arab Utara.

Kalau penduduk Arab Utara ketika itu belum memperhatikan pentingnya tulis menulis, maka penduduk Yaman sejak lama sudah menulis peristiwa-perisiwa yang mereka alami. Mereka juga sudah mengenal kalender sejak tahun 115 SM.

Berita penting yang ditemukan dari tulisan-tulisan yang ditemukan di tempat-tempat peribadatan mereka sebelum Islam, yang terpenting di antaranya adalah berita tentang runtuhnya bendungan Ma'arib yang menimbulkan banjir besar di negeri itu.

Berita lainnya seperti Kerajaan Saba' dan Ratu Bilqisnya yang berhubungan dengan Nabi Sulaiman, tentang kerajaan Himyar, tentang penaklukan Habasyah (Ethiopia) atas Yaman, tentang serbuan Yaman (atas nama Habsyah) ke Mekah dengan tentara gajah pada tahun 571 M, dan tentang peperangan yang Safy ibn Yazn al-Himyari berhasil mengusir orang-orang Habsyah dari negeri Yaman atas bantuan Persia.

Akan tetapi, berita-berita itu, terutama yang berkembang di masa Islam, di dalamnya bercampur antara yang faktual dan yang bersifat dongeng dan legenda. Menurut perkiraan Muhammad Ahmad Tarhini, munculnya legenda dan dongeng dalam berita-berita itu dikarenakan tingginya fanatisme kedaerahan orang-orang Yaman pada abad pertama dan kedua Hijriah.

Riwayat-riwayat tentang Yaman di masa silam kebanyakan dalam bentuk hikayat (al-qasbash / cerita), sebagaimana al-ayyam di kalangan Arab Utara. Isinya adalah cerita-cerita khayalan dan dongeng-dongeng kesukuan. 

Penulisannya dapat dijuluki tukang hikayat (narator) dan kitab-kitabnya dapat dikatakan riwayat-riwayat sejarah (novel sejarah). Oleh karena itu, para sejarawan tidak menilai hikayat-hikayat itu sebagai memiliki nilai historis.

Para penulis hikayat-hikayat yang banyak dikutip oleh sejarawan muslim berikutnya, yang terpenting di antara mereka adalah : (Mereka bertiga ini dipandang sebagai tokoh aliran Yaman)
  • Ka'b al-Ahbar
  • Wahb ibn Munabbih
  • 'Ubayd ibn Syariyah

Aliran Madinah


Perkembangan sejarah di kalangan kaum muslimin sejalan dengan perkembangan ilmu-ilmu keagamaan lainnya. Perkembangan ilmu-ilmu keagamaan Islam itu sendiri bermula di kota Madinah, karena kota ini merupakan ibukota negara Islam pertama sampai berdirinya Dinasti Umawiyah.

Dinasti Umawiyah kemudian menjadikan Damaskus, Syria, sebagai ibukota negara Islam. Di Madinah, kota Hijrah, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dan menjalankan pemerintahan dan dakwahnya hingga beliau wafat.

Di kota Madinah ini pula berkumpul para sahabat besar yang dipandang sebagai gudang ilmu pengetahuan keagamaan Islam. Islam mengalami perluasan wilayah akibat keberhasilan ekspansi Islam pada masa al-Khulafa' al-Rasyidun dan Bani Umayyah.

Setelah wilayah Islam semakin luas banyak para penuntut ilmu yang ingin mendalami ilmu-ilmu keagamaan Islam, seperti hukum-hukum Islam, hadits, tafsir, dsb datang ke Madinah, karena Madinah pada masa itu menjadi kota tempat bermukimnya banyak ilmuwan muslim.
3 aliran penulisan sejarah di masa awal islam, beberapa aliran penulisan sejarah di awal islam, aliran penulisan sejarah dalam islam.
Ilmuwan muslim ini terdiri dari para ahli qira'at dan penghafal Al-Qur'an, baik dari kalangan sahabat maupun dari kalangan tabi'in.

Ilmu pengetahuan Islam yang pertama kali berkembang adalah ilmu hadits, karena melalui ilmu hadits inilah kaum muslimin pertama-tama mengetahui hukum-hukum Islam, penafsiran Al-Qur'an, sunnah Rasulallah dan para sahabat, keteladanan Rasulallah, dan lain sebagainya.

Dari penulisan hadits-hadits Nabi itu, para sejarawan segera memperluas cakupannya sehingga membentuk satu tema sejarah tersendiri, yaitu al-Maghazi (Perang-perang yang dipimpin Rasulallah) dan al-Sirah al-Nabawwiyah (Riwayat Hidup Nabi Muhammad SAW).

Aliran sejarah yang muncul di Madinah ini kemudian disebut dengan aliran Madinah, yaitu aliran sejarah ilmiah yang mendalam, yang banyak memperhatikan al-Maghazi, al-Sirah al-Nabawwiyah, dan berjalan di atas pola ilmu hadits, yaitu sangat memperhatikan sanad.

Para sejarawan dalam aliran ini terdiri dari para ahli hadits dan hukum Islam (fiqih). Mereka itu adalah : 
  • 'Abdullah ibn al-Abbas
  • Sa'id ibn al-Musayyab
  • Aban ibn 'Utsman ibn 'Affan
  • Syuhrabil ibn Sa'ad
  • 'Urwah ibn Zubayr ibn al-'Awwam
  • 'Ashim ibn 'Umar ibn Qatadah al-Zhafari
  • Muhammad ibn Muslim ibn 'Ubaidillah ibn Syihab al-Zuhri
  • Musa ibn 'Uqbah

Menurut 'Abd al-'Aziz al'Duri, perkembangan dan orientasi aliran Madinah ini sangat ditentukan oleh usaha-usaha dari dua ulama dalam bidang ilmu hukum (fiqih) dan hadits, yaitu 'Urwah ibn al-Zubayr dan muridnya al-Zuhri.

Aliran Irak


Aliran Irak ini lebih luas di bandingkan dengan dua aliran sebelumnya, karena memperhatikan arus sejarah sebelum Islam dan masa Islam sekaligus, dan sangat memperhatikan sejarah para khalifah. Dalam karya-karya sejarawan aliran ini, sejarah Irak biasanya diuraikan lebih terperinci dan panjang, sedangkan yang berkenaan dengan kota-kota lain hanya sepintas saja.

Setelah umat Islam melakukan ekspansi dengan berhasil pada masa 'Umar ibn Khaththab, orang-orang Arab muslim itu mendirikan beberapa kota baru di berbagai daerah yang mereka taklukkan, di antaranya adalah Kufah dan Bashrah di Irak.

Mereka pindah ke Kufah dan Bashrah dengan membawa adat istiadat dan tingkah laku Arab. Mereka kembali hidup mengelompok berdasarkan kabilah dan klan, kabilah dan klan yang berasal dari Arab Selatan (Yaman) mengambil sisi kota tertentu dan kabilah dan klan yang berasal dari Arab Utara Hijaz mengambil sisi kota lainnya.

Cerita, hikayat, atau tradisi kabilah, sebagaimana al-ayyam di masa sebelum Islam, diceritakan pada pertemuan suku di malam hari, atau di majelis seorang amir bahkan juga di masjid-masjid kota. Tema-tema pokok hikayat ini adalah pemujaan terhadap perjalanan kemajuan suatu suku. Hikayat ini dihargai sebagai sebuah warisan umum.

Karena keislaman mereka, warisan lisan di dua kota ini diperkaya dengan peristiwa-peristiwa dan nilai-nilai baru, seperti al-futuhat (ekspansi), fanatisme politik kekabilahan yang diakibatkan oleh adanya persaingan antar kabilah untuk mencapai kekuasaan, dan fanatisme kebangsaan yang muncul di kalangan bangsa-bangsa taklukan terutama bangsa Persia yang bermukim di Irak.

Langkah pertama yang sangat menentukan perkembangan penulisan sejarah di Irak yang dilakukan oleh bangsa Arab adalah pembukuan tradisi lisan. Hal itu pertama kali dilakukan oleh 'Ubaidullah ibn Abi Rafi, sekretaris 'Ali ibn Abi Thalib. Dalam penulisan sejarah ini, Dia diikuti oleh Ziyad ibn Abih.

Setelah mereka berdua, yaitu pada awal abad kedua Hijriah, mulai terihat adanya perkembangan penulisan sejarah karena banyaknya orang-orang yang ahli dalam bidang nasab (silsilah), kabilah-kabilah, dan warisan mereka yang menulis buku-buku yang memuat nasab, syair, kisah sebagian kabilah.

Para Penguasa Bani Ummayah yang sangat berorientasi kearaban sangat mendorong kenyataan baru bahwa Irak sebagai alternatif bagi Mekah dan Madinah dalam lapangan sastra dan adat istiadat.

Di masa kepemimpinan 'Abd al-Malik ibn Marwan, Kufah dan Bashrah berkembang menjadi kota-kota ilmu pengetahuan. Perkembangan lebih lanjut yaitu dengan hadirnya orang-orang muslim dari negeri tetangga seperti Persia, Syria, dan kota-kota Irak lainnya. 

Oleh karena itu, dua kota itu menjadi kota yang penduduknya majemuk (heterogen), yang mau tidak mau mengalami proses arabisasi, karena bahasa Arab ketika itu merupakan bahasa negara dan sekaligus bahasa agama.

Heteroginitas itu semakin mendorong bangsa Arab di sana untuk memelihara nasab (silsilah) dan tradisi ayyam al-'Arab, berkenalan dengan sejarah bangsa-bangsa non-Arab disamping ilmu-ilmu Al-Qur'an, Hadits, dan Fiqih.

Karena cakupan informasi dan subyek kajiannya lebih luas daripada dua aliran sebelumnya, aliran Irak ini dapat dikatakan sebagai kebangkitan sebenarnya penulisan sejarah sebagai ilmu. 

Sejarah pada masa ini sudah mulai melepaskan diri dari pengaruh ilmu hadits, dan bersamaan dengan itu terlihat adanya upaya meninggalkan pengaruh pra-Islam (sebelum Islam) yang mengandung banyak ketidakbenaran seperti : dongeng-dongeng dan cerita khayal.
Aliran ini melahirkan sejarawan-sejarawan besar di masa kemudian, dan diikuti oleh hampir seluruh sejarawan yang datang kemudian. Para sejarawan aliran Irak ini jumlahnya banyak, diantaranya : (Disamping 'Ubaidullah ibn Abi Rafi dan Ziyad ibn Abih)
  • Abu 'Amr ibn al-'Ala
  • Hammad al-Rawiyah
  • Abu Mikhnaf
  • 'Awanah ibn al-Hakam
  • Syayf ibn 'Umar al-Asadi al-Tamimi
  • Nashr ibn Muzahim
  • al-Haitsam ibn 'Udi
  • al-Mad'ini
  • Abu Ubaydah Ma'mar ibn al-Mutsni al-Taymi
  • al-Ashma'i
  • Abu al-Yaqzhan al-Nassabah
  • Muhammad ibn al-Sa'ib al-Kalibi
  • Hisyam ibn Muhammad al-Sa'ib al-Kalibi
Referensi :
Yatim, Badri. Historiografi Islam. Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997.

0 comments