Sejarah Berdirinya Lawang Sewu Semarang

Sejarah Berdirinya Lawang Sewu Semarang. Semarang merupakan salah satu kota besar yang terletak di pulau jawa, kota ini terletak di wilayah Jawa Tengah dan dijadikan sebagai pusat / ibu kota dari Jawa Tengah. Berbicara tentang kota Semarang pasti tidak akan lepas dari sejarah panjang yang melekat pada kota ini. 

Salah satunya yaitu Gedung Peninggalan Belanda bernama Lawang Sewu. 350 tahun Belanda berada di wilayah Indonesia, tentu sudah banyak peninggalan yang ditinggalkan oleh orang-orang Belanda di tanah Indonesia. Satu diantaranya adalah Lawang Sewu yang terletak di kota Semarang.
Sejarah Berdirinya Lawang Sewu Semarang, Sejarah singkat Lawang Sewu, sejarah lawan sewu, asal usul lawang sewu, jelaskan sejarah lawang sewu

Deskripsi Singkat Lawang Sewu


Lawang Sewu dulunya merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Didirikan sejak 1904, bangunan ini kelar secara keseluruhan pada tahun 1907. Alasan warga sekitar menyebutnya "Lawang Sewu" karena di dalam bangunan ini terdapat banyak Jendela yang berukuran tinggi dan lebar menyerupai pintu. 

Walaupun disebut sebagai Lawang Sewu, tetapi bangunan ini tidak memiliki pintu yang jumlahnya mencapai seribu. Ini hanya sebutan yang disematkan oleh masyarakat sekitar karena jika dilihat dari jarak jauh bangunan ini seakan-akan memiliki pintu yang sangat banyak yang jumlahnya diperkirakan mencapai seribu buah.

Sejak era kemerdekaan bangunan ini kemudian diambil alih oleh Pemerintah Indonesia dan sempat digunakan sebagai Kantor PT. Kereta Api Indonesia. Dalam sejarahnya bangunan ini juga menjadi saksi bisu dari peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang dan Pertempuran Pemuda Kereta Api Indonesia melawan prajurit Jepang seperti Kempetai & Kidobutai.

Sejarah Lawang Sewu


Pendudukan Belanda di Semarang


Pada tanggal 16 Juni 1864 di Semarang telah dibangun jalan kereta api pertama yang terdapat di Indonesia. Rute awal dari jalur kereta api ini terdiri dari beberapa tujuan daerah yang semuanya berpusat di Semarang, rute rute tersebut diantaranya dari Semarang ke Solo, Kedungjati, Surabaya, Magelang dan Jogja. 

Diawal pendiriannya jalur kereta api pertama di Semarang dinaungi oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij disingkat NIS. Badan ini kemudian memilih Gedung Lawang Sewu sebagai kantor pusatnya. Sejak saat inilah Gedung Lawang Sewu sangat sibuk dan menjadi pusat administrasi di wilayah Semarang.

Karena letaknya di wilayah Jawa Tengah, Semarang dengan Lawang Sewu nya sangat cocok untuk dijadikan pusat distribusi barang yang ada di wilayah Jawa. Semakin meningkatnya kapal-kapal pengangkut yang singgah ke Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang, membuat aliran pendistribusian barang menjadi semakin sibuk.

Setiap barang yang diangkut dari Kapal-kapal pengangkut yang singgah ke Pelabuhan Tanjung Emas akan didistibusikan melalui jalur kereta api ke wilayah lain di Jawa seperti Yogyakarta, Solo dan Surabaya.

Pendudukan Jepang di Semarang


1 Maret 1942, saat terjadi Perang Dunia 2 Belanda yang merupakan sekutu Inggris diserbu oleh kedatangan prajurit Jepang yang bersekutu dengan Jerman, pada tanggal ini tentara Jepang pertama kalinya mendarat di pulau Jawa. (Baca juga : Jalannya Perang Dunia 2)

Mobilisasi pasukan Jepang yang bertujuan untuk menguasai Asia Pasifik termasuk Indonesia, berlangsung dengan sangat cepat. Sehingga hasilnya pada tanggal 8 Maret 1942 Jenderal Ter Poorten, Komandan Pasukan Belanda di Indonesia menandatangani penyerahan tidak bersyarat kepada Jepang di Subang, Jawa Barat. Peristiwa ini dikenal dengan Perjanjian Kalijati.

Dengan demikian berakhir sudah pendudukan Belanda di Indonesia, kendali atas Indonesia kini beralih ke tangan Jepang. Secara otomatis semua aset peninggalan Belanda jatuh ke tangan Jepang, tak terkecuali dengan Gedung Lawang Sewu.

Mengetahui bahwa kota di Jepang seperti Hiroshima (6Aug'45) dan Nagasaki (9Aug'45) telah dibom oleh pasukan sekutu, membuat semangat rakyat Indonesia untuk memerdekakan diri semakin kuat. Hasilnya sekali lagi Gedung Lawang Sewu menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Indonesia.

Pertempuran Lima Hari di Semarang (15Okt'45 - 20Okt'45) terjadi di depan Gedung Lawang Sewu. Pihak yang terlibat dalam pertempuran ini adalah Tentara Keamanan Rakyat & pemuda Indonesia melawan tentara-tentara Jepang. (Baca juga : Tradisi Bunuh diri Prajurit Jepang)

Pelestarian Lawang Sewu


Karena pengaruhnya terhadap sejarah perjuangan Bangsa Indonesia dan keinginan untuk melestarikan bangunan kuno yang memiliki nilai sejarah, PT. Kereta Api Indonesia segera membentuk unit pusat pelestarian benda dan bangunan bersejarah.

Unit-unit ini memiliki tugas penting untuk melestarikan dan mengonservasi berbagai macam peninggalan sejarah milik Kereta Api Indonesia, salah satunya yaitu peninggalan bersejarah Gedung Lawang Sewu. Hasilnya pada bulan Juni 2010 Lawang Sewu sudah sah untuk ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. 

Dokumentasi :
Sejarah Berdirinya Lawang Sewu Semarang, Sejarah singkat Lawang Sewu, sejarah lawan sewu, asal usul lawang sewu, jelaskan sejarah lawang sewu

0 comments