Dampak dari Perang Dunia 2

Dampak Perang Dunia 2. Perang dunia 2 adalah perang yang terjadi selama rentan waktu 6 tahun yaitu dari tahun 1939 sampai tahun 1945. Perang besar ini menjadi perang terakhir yang sangat berdampak pada perkembangan dunia modern seperti saat ini.

Sebagai contoh Jerman sekali lagi menjadi tokoh utama dalam jalannya Perang Dunia 2. Perang ini terjadi akibat dari ketidakstablian politik pasca perang dunia 1 yang kemudian membuat Eropa sekali lagi dilanda dengan perang besar.

Perang besar di Eropa (Perang Dunia 2) yang nantinya akan berdampak luas dan menjadi perang yang lingkupnya mencangkup seluruh dunia. Dengan bergabungnya Jepang sebagai negara di Asia, perang ini resmi meliputi seluruh wilayah dipenjuru negeri ini.
Dampak dari Perang Dunia 2, apa saja dampak Perang Dunia 2, Sebutkan Dampak Perang Dunia 2
Perang besar yang terjadi tentu akan berdampak pada perubahan-perubahan di berbagai bidang seperti : Ekonomi, Politik, dan Sosial. Untuk itu berikut akan dijabarkan satu persatu dampak dari Perang Dunia 2.

Dampak Politik

Dibentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa


Organisasi Internasional ini didirikan pada tanggal 24 Oktober 1945. Melihat dari kegagalan Liga Bangsa-Bangsa, organisasi ini kemudian memperbaiki kualitasnya sehingga diharapkan mampu untuk mencegah terjadinya Perang Dunia 3 atau perang-perang lainnya.

Organisasi ini menghimpun seluruh negara yang ada di dunia untuk bersatu dan menciptakan perdamaian bersama. Namun terdapat hak spesial bagi negara-negara pemenang Perang Dunia 2 seperti : AS, Inggris, Perancis, Russia, dan Cina. Mereka memiliki hak veto yang memiliki peran khusus.

Hak Veto adalah hak untuk menolak keputusan yang diusulkan oleh PBB. Jika terdapat salah satu dari pemegang hak veto tersebut tidak setuju atas usulan PBB, maka akan dilakukan perundingan kembali dan bila tidak dimungkinkan terjadi perundingan maka usulan PBB tersebut bisa dinyatakan gagal / tidak disetujui.

Munculnya Amerika Serikat dan Uni Soviet Sebagai Negara Adidaya.


Amerika Serikat dan Uni Soviet menjadi dua negara besar yang mampu mempertahankan kekuatannya setelah Perang Dunia 2 usai. AS dan Uni Soviet memang telah berselisih paham terlebih dahulu sebelum ikut dalam Perang Dunia 2. Namun mereka memutuskan bersatu untuk menumpas terlebih dahulu Jerman dengan Nazi nya.

Selisih paham tersebut menyangkut ideologi, jika AS lebih mengutamakan kebebasan dengan liberalisme nya sementara Uni Soviet memiliki paham dengan komunisme nya. AS menyakini sebuah negara harus bersifat demokrasi, sedangkan Uni Soviet meyakini bahwa sebuah negara harus lah dipimpin oleh pemimpin tunggal yang sifatnya otoriter. 

Setelah perang besar di PD2, hanya tersisa Amerika Serikat sebagai negara tunggal peserta PD2 yang tidak mengalami kerusakan berarti di negaranya, karena memang benua Amerika belum tersentuh oleh Perang Dunia 2. Oleh karena itu, setelah perang dunia 2 negara ini mampu menjadi penyokong negara-negara di Eropa.

Kemunculan Blok Barat (NATO) dan Blok Timur (Pakta Warsawa)

Dampak dari Perang Dunia 2, apa saja dampak Perang Dunia 2, Sebutkan Dampak Perang Dunia 2
Setelah Perang Dunia 2 usai negara Barat dan Timur kembali berselisih paham, khususnya dalam hal ideologi. Aliansi Barat kemudian membentuk NATO (North Atlantic Treaty Organization) yang terdiri dari AS, Inggris, Perancis, Belanda, Belgia, Luxemburg, Jerman Barat, Norwegia, dan Kanada.

Sedangkan Aliansi Timur membalas tindakan tersebut dengan membentuk Pakta Warsawa yang terdiri dari Uni Soviet, Albania, Polandia, Romania, Hongaria, Jerman Timur, Cekoslovakia, dan Bulgaria.

Kedua Aliansi ini memiliki persamaan tujuan yaitu pertama, menjalin kerja sama antar negara anggota dan kedua, setiap anggota harus saling membantu jika terdapat salah satu dari anggota mendapat serangan dari negara lain.

Kemunculan Perang Dingin


Munculnya negara Adidaya seperti AS dan Soviet serta munculnya Blok Barat dan Blok Timur akan mengakibatkan perang urat yang terjadi diantara keduanya. Perang Dingin terbagi menjadi 5 periode yang berlangsung selama tahun 1947-1991.

Selama Perang Dingin kedua pihak ini memang tidak terlibat perang secara langsung, tetapi kedua pihak ini mampu menciptakan konflik seperti : Blokade Berlin, Krisis Berlin, Perang Korea, Krisis Suez, Krisis Rudal Kuba, Perang Vietnam, Perang Afganistan, dan Perang Yom Kipur. 

Selain itu terdapat tujuan lain dari Perang Dingin yaitu : Penyebaran Ideologi, Melakukan Spionase, Perlombaan Nuklir, Bersaing dibidang Olahraga, Perlombaan Angkasa, dan Perang Proksi.

Muncul Istilah Tirai Besi 


Tahun 1945 Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill melakukan pidato nya. Dalam pidato tersebut yang disiarkan oleh seluruh bagian dunia yang berbahasa Inggris, Ia pertama kali mengenalkan istilah Tirai Besi.

Istilah Tirai besi adalah sebuah istilah yang digambarkan untuk garis & perbatasan yang telah dibentangkan di sepanjang benua. Garis ini yang memisahkan antara Blok Barat dengan Blok Timur. 

Setelah Perang Dunia 2 usai, kedua negara adidaya (AS & US) saling berlomba untuk menyebarkan pengaruhnya maka dari itu istilah tirai besi muncul untuk memisahkan perbedaan yang terdapat di kedua belah pihak. (Baca juga : Istilah Tirai Besi yang dipopulerkan oleh Winston Churchill)

Muncul Gerakan Non Blok


Sebagai respon dari munculnya blok barat dan blok timur, negara-negara di kawasan Asia-Afrika kemudian menggagas sebuah gerakan yang ditunjukan untuk menghindari politik aliansi yang terjadi antara barat dan timur.

Gerakan tersebut dinamakan Gerakan Non Blok. Gerakan ini didirikan pada tahun 1961 di Belgrade, Serbia oleh beberapa kepala negara, salah satunya adalah Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno yang menjadi pendiri dari gerakan yang sangat bersejarah ini.

Sangat berpengaruhnya Indonesia dalam pendirian gerakan ini, bahkan kota di Indonesia yaitu Kota Bandung sempat menjadi tuan rumah cikal bakal berdirinya Gerakan Non Blok.

Banyak Negara Memerdekakan diri dari Penjajahan Negara Eropa


Khususnya di wilayah Asia dan Afrika banyak sekali negara yang dijajah oleh negara-negara dari kawasan Eropa. Bangsa Asia-Afrika mampu memanfaatkan situasi ini untuk menumbuhkan dan meningkatkan rasa Nasionalisme nya.

Sehingga diawal periode setelah terjadinya Perang Dunia 2 banyak negara berhasil memerdekakan diri, seperti : Indonesia (17 Agustus 1945), Filipina (4 Juli 1946), Birma (4 Januari 1948), Sri Lanka (4 Februari 1948), Dominion India-Pakistan (15 Agustus 1947) dan India merdeka penuh tanggal 26 Januari 1950. 

Fyi, Indonesia merupakan negara di Asia pertama yang berhasil memerdekakan diri setelah Perang Dunia 2 selesai. Tengok saja berkat kehebatan Para Pendiri Bangsa (The Founding Fathers) Indonesia mampu merdeka hanya berselisih 3 hari setelah Jepang menyerah tanpa syarat ke sekutu pada 14 Agustus 1945.

Terbaginya Jerman dan Korea 


Jerman terbagi menjadi dua pada tanggal 16 Agustus 1961, dengan dibangunnya Tembok Berlin menandai adanya pemisahan antara Jerman Barat (Sekutu) dan Jerman Timur (Soviet). Hal ini akan terus berlanjut hingga rakyat Jerman Barat memutuskan untuk merobohkan tembok ini pada tanggal 9 November 1989, Jerman secara resmi bergabung kembali pada tanggal 3 Oktober 1990.

Sama halnya dengan Jerman, di Asia terdapat pembagian wilayah yang dialami oleh rakyat Korea. Korea saat itu harus terpisah menjadi dua yaitu Korea Utara (Soviet) dan Korea Selatan (Sekutu). Sejak dibentuknya Korea Utara dan Korea Selatan, wilayah ini telah mengalami perang saudara yang berlangsung antara 1950-1953, dari perang ini kemudian muncul zona demiliterisasi.

Zona ini melarang siapapun untuk memasuki wilayah tersebut. Tidak seperti Jerman, Korea sampai saat ini belum menyatakan ingin bersatu kembali. Bahkan hubungan kedua belah pihak ini masih panas sampai saat ini, tahun 2018.

Dampak Ekonomi 


Kali ini untuk dampak ekonomi tidak akan dibahas lebih detail mengenai keterpurukan ekonomi, kehancuran infrastruktur dan semacamnya. Karena sudah tentu sebuah perang pasti akan merugikan bagi siapapun yang ikut didalamnya seperti halnya yang terjadi setelah Perang Dunia 1, baik bagi pemenang maupun yang kalah keduanya pasti akan merasakan dampak buruk dari sebuah perang.

Oleh karena itu yang akan dibahas dari dampak ekonomi disini adalah kebijakan-kebijakan untuk mengatasi keterpurukan ekonomi dan membangun kembali kehidupan ekonomi di Eropa. Langsung saja berikut beberapa kebijakan-kebijakan untuk mengatasi dampak ekonomi tersebut :

Marshall Plan (1947)


Rencana Marshall Plan adalah inisiatif penamaan yang diambil dari Sekretaris Negara AS George Marshall, sekaligus hasil kajian Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Dean Acheson. Selama diberlakukannya rencana ini, aneka bantuan ekonomi dan teknis yang bernilai sekitar US $13 miliar dicurahkan AS untuk negara-negara Eropa yang mengalami kehancuran akibat perang.

Negara-negara penerima Marshall Plan meliputi Austria, Belgia, Denmark, Perancis, Jerman Barat, Inggris, Yunani, Islandia, Irlandia, Italia, Luksemburg, Belanda, Norwegia, Swedia, Swiss, dan Turki. Tidak hanya untuk Eropa, negara-negara Asia yang terkena imbas Perang Dunia 2 juga mendapat bantuan dari program ini.

Sedangkan untuk Uni Soviet dan negara satelitnya di Eropa tengah dan timur menolak ikut serta dalam program ini karena menilai program ini sebagai cara AS untuk mengontrol urusan dalam negeri mereka. 
Dampak dari Perang Dunia 2, apa saja dampak Perang Dunia 2, Sebutkan Dampak Perang Dunia 2

Doktrin Truman (1947) 


Doktrin Truman adalah sebuah program yang ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman. Program ini mulai dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 1947. Selain sebagai cara untuk mengatasi dampak ekonomi program ini juga memiliki tujuan lain yaitu untuk mencegah negara-negara Eropa khususnya Tukri dan Yunani agar tidak jatuh ke dalam lingkup Soviet.

Sedangkan tujuan utama ekonomi dari dilaksanakannya program ini adalah Amerika Serikat menyatakan untuk mendukung penuh Yunani dan Turki dengan memberikan mereka bantuan berupa bantuan ekonomi dan militer.

Bantuan ekonomi berupa bantuan untuk membangun kembali infrastruktur, membangun kembali pusat industri, dan membangun kembali roda ekonomi yang sempat terhenti setelah Perang Dunia 2 berakhir. Sehingga jika 3 point tersebut terpenuhi maka diharapkan rakyat Yunani dan Turki mampu bersikap mandiri dan mampu menyelamatkan negaranya dari keterpurukan.

Rencana Point Four (1950)


Rencana bantuan ini adalah sebuah bantuan teknik untuk negara-negara berkembang di wilayah Asia dan Afrika yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman. Program ini merupakan usulan dari Truman dalam pidato pelantikannya pada tanggal 20 Januari 1949.

Dinamakan Point Four karena dalam program tersebut mencangkup empat (4) butir tujuan yang harus dicapai. Program ini ditunjukan untuk menggalakan penanaman modal swasta dan pengaruh Amerika Serikat di negara-negara berkembang.

Dampak Sosial

Menurunnya Populasi Penduduk di Eropa


6 tahun terjadi Perang berdampak pada meningkatnya angka kematian yang dialami negara-negara di Eropa dan dunia. Mereka harus merelakan orang-orang dengan umur produktif untuk berperang digaris depan dan kembali dengan hanya membawa nama.

Tentu ini menjadi dampak yang paling parah yang dialami dari Perang Dunia 2, jumlah korban mencapai 62,5 Juta jiwa tentu melebihi korban perang akibat Perang Dunia 1. Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk merawat korban luka dan luka cacat fisik yang dialami oleh korban perang. 

Upaya Peningkatan Produktivitas Industri


Hal ini tentu sangat diperlukan ketika negara sedang tidak dalam kondisi yang prima. Mendorong peningkatan produktivitas industri adalah jalan satu-satunya agar masyarakat dunia khususnya Eropa terlepas dari kesulitan yang dihadapinya.

Dengan tercapainya target produksi akan mempercepat pembangunaan yang dilakukan pasca-perang. Sehingga diharapkan kondisi ekonomi negara mampu kembali ketahap normal dan dengan cepat mampu menyelesaikan pekerjaan lain seusai Perang Dunia 2.

Perlindungan Korban Pasca Perang


Banyak dari penduduk yang menjadi korban seusai Perang Dunia 2 berakhir, bahkan tercatat kematian korban sipil lebih tinggi dibandingkan dengan korban militer. Sedangkan untuk korban sipil yang masih selamat, mereka sudah tidak punya tempat tinggal, krisis kelaparan, dan kesulitan hidup.

Dampaknya angka bunuh diri pada periode ini meningkat karena masyarakat Eropa menganggap beban hidup terlalu sulit ditengah krisis panjang yang dialami negaranya. 

Untuk itu peran aktif dari pemerintah sangat penting dalam mencukupi kebutuhan hidup mereka, mereka juga diharapkan mampu mendirikan pusat-pusat bantuan bagi para korban yang terkena dampak langsung dari Perang Dunia 2, sehingga cara ini berpotensi dapat menurunkan angka bunuh diri.

0 comments